Tampilkan postingan dengan label dinar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dinar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Oktober 2013

Memulai memiliki Dinar, selamatkan nilai kekayaanmu


Dinar Antam
Instrumen investasi yang saya pelajari pertama kali adalah logam mulia (emas batangan dan dinar). Memiliki emas sangat cocok bagi investor pemula yang minim pengetahuan seperti saya saat itu. Emas cenderung minim resiko dan termasuk cukup mampu mengalahkan inflasi. Rata-rata kenaikan per tahunnya berkisar antara 10-15%.

Emas memang sangat difavoritkan oleh orang tua kita dahulu (disamping properti) karena harganya yang terus naik setiap tahun dan barangnya atau wujudnya bisa kita lihat dan kita pegang sendiri. Emas juga sangat likuid (mudah dicairkan) yang memungkinkan kita untuk menjual kembali atau menggadaikan emas kita kapan saja. Resiko dalam memiliki emas umumnya dikarenakan bentuk dan ukurannya yang kecil membuat kita harus benar-benar teliti dalam menyimpannya dari resiko kehilangan atau tercuri. Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan menitipkannya di Bank.

Saya banyak membaca artikel dan buku-buku yang berhubungan dengan investasi emas. Salah satu buku yang saya baca adalah buku karangan Endy Kurniawan yang berjudul “Think Dinar”. Buku ini sangat bagus sebagai bacaan awal untuk memulai menabung dan mengumpulkan uang dinar yang diyakini sebagai real money yang tahan terhadap inflasi atau zero inflation. Pepatah yang saya ingat di buku ini adalah bagaimana menjadi seorang muslim yang kaya saat ini dan super kaya di masa depan hanya dengan berpikir secara dinar atau think dinar.

Pada awalnya, saya menganggap emas atau dinar adalah sebagai produk investasi yang cenderung akan naik di masa depan. Namun kini saya lebih memandang emas atau dinar tidak lebih dari hedging atau melindungi kekayaan kita. Karena memang dinar atau emas sejatinya memiliki nilai yang tetap sepanjang waktu, akan tetapi dikarenakan nilai mata uang lain seperti rupiah yang cenderung menurun akibat inflasi maka nilai tukar emas terhadap rupiah menjadi semakin tinggi.

Faktor kenaikan harga emas pun sangat bergantung pada kondisi ekonomi dan politik global. Bahkan 1 keping dinar pertama yang saya beli seharga 2.2 juta di tahun 2011 pernah merosot tajam hingga ke level 1,8 juta di awal tahun 2013. Meskipun terlihat merugi apabila dikonversikan ke rupiah, tetapi sesungguhnya tidak, karena tabungan saya tetaplah 1 dinar. Itulah yang mendasari saya berpikiran bahwa emas atau dinar lebih cocok sebagai alat pelindung nilai (asset) kita.

Saya memilih dinar sebagai keranjang investasi saya yang pertama dibandingkan emas batangan karena sifat dinar yang lebih praktis dan sederhana. Saya membelinya melalui agen dinarbandung.com yang berafiliasi langsung pada geraidinar.com.

Dinar dihitung berdasarkan jumlah koin 1 dinar yang kita punya. Hal ini tentu memudahkan kita apabila kita ingin menjual kembali, yakni dengan hanya melepas sejumlah koin dinar yang diinginkan. Bandingkan apabila kita memiliki emas batangan yang memiliki banyak varian berdasarkan berat. Belum lagi semakin kecil gram emas yang kita punya justru semakin mahal harganya. Emas dengan ukuran gram yang besar memang memiliki harga yang lebih murah namun sifat likuidnya (mudah dicairkan) menjadi semakin sulit. Belum lagi margin (selisih kurs jual beli) dinar cenderung tetap yakni 4%, bandingkan dengan emas batangan yang meskipun memiliki kurs buyback yang sama, namun karena harga belinya yang berbeda (berdasarkan ukuran gram) membuat selisihnya berbeda-beda. Hal-hal tersebut lah yang mendasari saya untuk memilih dinar dibandingkan emas batangan.

Ketika saya mulai memperkenalkan dan mengajak teman-teman dekat saya untuk mulai memiliki emas, saya pun cukup dibuat kewalahan karena mereka umumnya komplain bahwa nilai emas yang mereka punya terus menurun. Menurut saya itulah salah satu resiko dari berinvestasi yang umumnya diabaikan oleh hampir semua investor pemula. Mereka pada umumnya sama, yakni mengharapkan keuntungan besar (high profit) dalam jangka waktu pendek. 

Sementara ini, saya sudah berhenti menabung dinar karena kini saya fokus belajar berinvestasi di reksadana. Pengalaman berinvestasi di reksadana akan saya tampilkan dalam tulisan saya berikutnya.

Senin, 14 Januari 2013

Dinar-Dirham sebagai produk investasi atau sebagai alat tukar muamalah?

Beberapa saat yang lalu, saya melakukan transaksi yang cukup intens via whatsApp Messenger dengan pelanggan komputer baru saya yang tinggal di daerah ciawitali, cimahi yang sebut saja bernama Pak Slamet. Setelah adanya kesepakatan, dia mempertanyakan ke saya apakah cara pembayarannya bisa menggunakan dinar-dirham. Tentulah saya kaget, ini adalah sesuatu hal yang sangat asing untuk didengar, karena umumnya seorang calon pembeli hanya mempertanyakan apakah bisa dibayar menggunakan debit, transfer rekening, kredit, atau uang cash.

Memang bila menilik terhadap apa itu dinar-dirham, tentu tidaklah lepas dari suatu mata uang koin berupa emas (apabila dinar) dan perak (apabila dirham) yang biasa dipergunakan oleh kalangan negara Islam semenjak dulu yang memiliki ketetapan atau nilai tukar yang tidak pernah berubah semenjak zaman Rasul.

"Dinar emas berdasarkan Hukum Syari’ah Islam adalah koin emas yang memiliki kadar 22 karat emas dengan berat 4,25 gram, sedangkan Dirham perak Islam memiliki kadar perak murni dengan berat 3 gram atau lebih tepatnya 2,975 gram." (wikipedia.com).

Karena tertarik dengan permintaan, "Bisa dibayar pake dinar-dirham ga ya mas?" membuat saya spontan menjawab, "Ya boleh pak. Untuk nilai konversi nya bisa mengacu pada kurs saat pengiriman." (Jawaban saya terlihat sok tahu sih, tapi biarlah,hehe).

Dia bertanya lagi, "Saya punya dinar Wakala Nusantara lho, bisa mas?". Oke untuk pertanyaan yang satu ini adalah sesuatu yang ceroboh apabila saya jawab dengan pernyataan yang berbau sok tahu, karena memang saya ga tahu sama sekali apa itu dinar Wakala Nusantara. Sejauh yang saya tahu, dinar adalah produk koin emas yang dikeluarkan oleh PT Antam dan didistribusikan ke agen-agen seperti Gerai Dinar dan turunannya.

Belum sempat saya merespon, rupanya dia sudah mengantisipasi kebingungan saya dengan mengatakan, "Dinar wakala nusantara ini juga keluaran Antam kok mas, sama kaya GD (Gerai Dinar)." Seperti biasa, setiap hal baru yang membuat saya penasaran, pasti saya langsung mencarinya di internet. Oke, saya langsung ketikkan di Google. "Dinar Wakala Nusantara".


"Wakala Induk Nusantara adalah Wakala Pusat Dinar Dirham yang berfungsi sebagai pusat distribusi Dinar Emas Islam dan Dirham Perak Islam dengan layanan sebagai berikut:
  • Penukaran IGD dan ISD dengan mata uang rupiah atau logam emas dan perak;
  • Gateway fisik dari e-Dinar;
    • Pembayaran ke vendor 3rd party
    • Transfer antar-pemegang rekening
    • Transfer antar-wakala
  • Jasa penitipan;
  • Payment System
  • Konsultasi qirad dan e-qirad;
  • Kliring
  • Memfasilitasi Market / e-market." (wakalanusantara.com)

Tampak jelas bahwa kegiatan atau cita-cita utama dari wakala nusantara adalah untuk memulai memasyarakatkan kembali dinar-dirham sebagai mata uang yang sebenarnya yang sesuai dengan syariat Islam dan memiliki nilai tukar yang adil dan bebas dari inflasi.

Karena hal tersebut, saya mulai merenung,
"Apakah motif saya dalam kepemilikan dinar selama ini?"

Dalam buku "Think Dinar" karya Bapak Endy Kurniawan memang dijelaskan secara  gamblang tentang fungsi, kegunaan, dan keuntungan dari kepemilikan dinar-dirham. Tetapi saya rasa buku tersebut memiliki misi lain secara tersirat. Cita-cita utama kepemilikan dinar-dirham menurut wakala nusantara adalah sebagai alat tukar yang syar'i, namun dalam buku ini justru berulang kali dibahas tentang potensi dinar-dirham sebagai produk investasi. Selain itu juga dibahas bagaimana kelebihan dinar-dirham sebagai produk investasi dibandingkan dengan LM batangan.

Memang isi buku ini tidak sepenuhnya salah, dan saya sangat menyukai buku tersebut karena memang ditekankan disana bahwa cara paling bijak dalam menabung selain di bank untuk jangka panjang (semisal berangkat haji atau biaya kuliah anak) adalah dalam bentuk tabungan dinar-dirham.

Pak Slamet menjelaskan kepada saya bahwa apabila ada toko beras yang mau dibayar dengan dinar-dirham, maka dengan senang hati akan dilakukannya. Dia lalu memberi contoh toko-toko dan restoran di Bandung yang menerima pembayaran menggunakan dinar-dirham dan cukup banyak. Dia menambahkan bahwa biasanya pemilik toko atau restoran tersebut memang tahu akan kelebihan dinar-dirham sebagai mata uang dibandingkan dengan mata uang kertas. Selain itu juga, menurutnya, para pemilik toko atau restoran tersebut tidak semuanya Muslim, jadi apabila umat Non Muslim saja lebih suka bertransaksi dengan dinar-dirham, kenapa umat Muslim sendiri tidak?

"Pak Slamet menjelaskan kepada saya bahwa apabila ada toko beras yang mau dibayar dengan dinar-dirham, maka dengan senang hati akan dilakukannya."

Memang memiliki dinar wakala nusantara ini sedikit membuat kecewa, karena pihak mereka sendiri mematok nilai buy back price sebesar 10% dari harga jual. Bayangkan dengan nilai buy back price yang dicanangkan oleh Gerai Dinar yang hanya sebesar 4%. Bahkan kedepannya pihak wakala tidak akan menerima buy back lagi dengan maksud untuk lebih mempergunakan dinar-dirham sebagai alat pembayaran sehingga kedepannya tidak akan ada lagi orang yang kembali untuk menukarkan dinar-dirham wakala mereka ketika harga emas dunia sedang melonjak naik.

Perlu diketahui, Bapak Endy Kurniawan adalah pemilik distributor dinar-dirham bernama Salma Dinar (salmadinar.com) yang juga merupakan turunan dari Gerai Dinar sebagai induknya. Dalam hal ini dapat Anda simpulkan sendiri adanya keterkaitan antara isi buku dengan motif bisnis yang ada pada Gerai Dinar agar masyarakat mulai mempertimbangkan untuk berinvestasi dinar-dirham sebagai alternatif investasi emas selain LM, dibandingkan dengan motif murni dakwah yang dilakukan oleh Wakala Nusantara untuk memasyarakatkan penggunaan dinar-dirham sebagai alat pembayaran.

Meskipun berbeda cara, tetapi semoga saja misi dan cita-cita wakala nusantara dan gerai dinar dalam memasyarakatkan kembali penggunaan dinar-dirham dalam proses jual beli di Indonesia dapat terus berjalan sehingga diharapkan semua umat akan terangkat secara ekonominya dibandingkan dengan kepemilikan uang kertas rupiah yang semakin tergerus oleh inflasi. Semoga saja.

Setelah panjang lebar berdiskusi tentang dinar-dirham, akhirnya saya memutuskan untuk dibayar menggunakan rupiah saja. Nah loh? Kenapa bukan dinar-dirham? Iya soalnya uangnya mau saya putar lagi dan toko rekanan saya ini kan gak nerima pembayaran pake dinar-dirham, yasudah deh, hehe.

Atas dasar hal tersebut adalah perlu bagi kita untuk menentukan untuk apakah tujuan kita dalam kepemilikan dinar-dirham. Apakah kita termasuk seorang investor sejati yang membeli disaat murah dan menjual kembali disaat harga sedang tinggi atau seorang yang memanfaatkan dinar-dirham sebagai sarana dakwah untuk lebih memasyarakatkan penggunaannya sebagai mata uang sejati?

Saya sendiri memilih menyimpan dinar-dirham sebagai media alternatif menabung selain di bank untuk jangka panjang. Sebenarnya masih mirip-mirip dengan pengertian investasi sih, tapi bedanya ketika saya akan membeli sesuatu, misal pergi umrah atau membeli rumah, dan si penjual tidak keberatan dibayar dengan dinar-dirham, maka akan saya lakukan. Sedangkan apabila dengan LM batangan, tentulah pasti akan dicairkan dulu dalam bentuk rupiah karena persoalan ragamnya ukuran LM yang ada.

Sekian tulisan saya, mohon maaf atas banyaknya kesalahan.
Wallahu a'lam bissowaf..

CMIIW 



Rabu, 21 Maret 2012

DINAR | DO's and DONT 's |

Ada beberapa yang harus dipahami dalam menggunakan Dinar baik ketika membeli ataupun saat menjual.

Gunakanlah dinar sebagai investasi jangka panjang atau sebagai proteksi nilai dan alat tukar alternatif. Jangan menggunakan untuk investasi jangka pendek, apalagi spekulasi karena itu sangat beresiko. Paling cepat dalam waktu satu tahun dan lebih baik jika anda menabung dinar untuk proteksi nilai . Membeli pada kapan saja baik harga sedang naik maupun turun dan menjual ketika memang sangat memerlukan dana .

Belilah atau tukarlah dinar di pihak pihak yang menjual dinar dengan sistem terbaik, memiliki ketersediaan dinar secara berkesinambungan, agen yang representatif, dan sistem jual – beli yang reliable serta pengguna yang banyak, karena bila pengguna banyak maka ketika akan menjual pun kepada sesama user sangat mudah . Jangan membeli karena harga lebih murah bisa jadi anda akan kesulitan saat akan menjual kembali atau dinar yang kurang digunakan oleh pengguna, bisa jadi anda akan kesulitan mencari user dinar tersebut.

Belilah atau tukarlah dinar yang diproduksi di lembaga terpercaya seperti Logam Mulia Antam . Mengapa? Karena Logam Mulia masuk ke dalam London Bullion Market Association dan telah terakreditasi KAN – Komite Akreditasi Nasional yang akan menjamin kualitas cetakan dan presisi kadar dinar yang dicetak. Quality Control dan Quality Assurance yg baik menjamin produk diterima user adalah produk yang terbaik kualitasnya. Kurang disarankan membeli dinar di provider mencetak sendiri walau mereka memiliki teknologi mesin namun untuk QC dan QA tidak sebaik Logam Mulia.

Jangan menggunakan skema Kebun Emas atau Mencicil Dinar, karena skema tersebut tidak syar'i. Banyak orang yang tidak memahami kebun emas dan cicil emas dari segi syariahnya. Banyak yang memahami hal ini diperbolehkan karena disupport oleh bank syariah padahal dalam kajian lebih dalam banyak akad akad dan produk bank syariah yang tidak sesuai syariah.

Belilah atau tukarlah dana anda ke dinar sebagai substitusi dana tabungan anda di bank dan jangan gunakan dana produktif anda. Menyimpan tabungan kita dalam dinar lebih baik karena pertumbuhannya lebih baik dari tabungan dan deposito serta menutupi inflasi yang terjadi setiap tahun.

Keluarkanlah zakat bila telah mencapai nishab 20 dinar ( baik itu dinar dan harta anda selain dinar) setelah mencapai haul selama satu tahun sebesar 2.5 %.

Perkenalkanlah dinar kepada keluarga dan teman anda selain membantu memasyarakatkan penggunaan dinar maka anda pun dapat memproduktifkan dinar anda melalui jual beli dinar, insya Allah yang ingin mempelajari jual beli dinar dapat menghubungi saya.

Simpanlah dinar di tempat yang aman di brankas atau di SDB – Safety Deposit Box di bank bank. Dinar tidak perlu perlakuan khusus seperti perak yang dapat menghitam karena adanya tarnish hasil oksidasi dan uniknya dinar adalah tidak seperti emas batangan yang harganya dapat berbeda bila desain cetakannya berbeda. Saya menerima dinar tahun 2002 dan tetap dihargai seperti dinar cetakan baru.

Jangan memisahkan dinar dan sertifikatnya, sekali anda kehilangan sertifikat maka akan ada biaya penggantian sertifikat sebesar 65.000 per sertifikat.

Jika anda ingin mengetahui keaslian dinar maka jangan gunakan metode kualitatif dengan cara mengambil sampel emas dari koin emas dinar dengan cara dikikir kemudian menggunakan reagen kimia untuk menentukan kadarnya. Mengapa ? Karena anda akan kesulitan menjual kembali karena rata rata agen dan user menolak koin cacat, Cobalah menguji dengan menghitung berat jenis. Metode ini lebih baik dibanding metode kualitatif .

Jika anda ingin melakukan gadai di bank syariah atau pegadaian ( bukan berarti saya sepakat dengan skema gadai, karena skema gadai di bank syariah tidak jauh beda dengan meminjam bank di bank konvensional dengan adanya agunan, dan biaya ijarohnya identik dengan bunga), maka pilihlah bank syariah dan pegadaian yang memiliki alat uji kadar seperti timbangan air, jangan memilih yang menggunakan metode kualitatif.

Jika anda menggunakan dinar sebagai mahar dan akan dihias hanya menggunakan koin tanpa sertifikatnya, maka jangan lupa menyimpan sertifikatnya karena banyak kasus ketika menghias mahar lupa menyimpan sertifikatnya.

Jangan kawatir naik turunnya dinar dalam waktu mingguan – harian- bulanan, pastikan anda tertidur nyenyak karena anda menyimpan dinar untuk jangka panjang :-) .

Jangan Latah !!! , orang lain ramai beli emas dan dinar , kita ikut- ikutan membeli, ada beberapa hal yang harus diperhatikan : sumber dananya darimana kemudian orientasinya jangka apa? Jika dananya belum ada tp terus memaksakan dengan meminjam atau berharap mendapat keuntungan dalam jangka pendek, maka saya sarankan jangan membeli.

Perlu diperhatikan bahwa harga dinar atau emas tidak dipengaruhi permintaan lokal seperti konsumen Indonesia. Indonesia bukan konsumen emas terbanyak, permintaan lokal negara kita persentasenya kecil terhadap pergerakan harga emas. Harga dinar atau emas dipatok dari harga emas dunia. Karena itu menjadi pemandangan yang menurut saya mengherankan melihat orang berdesak desakan mengantri di Logam Mulia karena berasumsi banyak permintaan di dalam negeri maka harga emas akan terkatrol naik. Jadi sebaiknya kita menyimpan dinar bukan karena ikut ikutan.

Rumor BBM naik tidak akan mempengaruhi harga emas karena yang akan mempengaruhi harga emas adalah harga minyak dunia .Namun itu pun tidak selalu berbanding lurus karena tetap yang menentukan harga adalah suplai dari pertambangan dan demand dari pasar emas internasional. BBM akan mempengaruhi daya beli masyarakat kita, karena naiknya BBM akan diikuti kenaikan komoditas komoditas dalam negeri.

Pergerakan harga emas secara statistik akan naik pada akhir tahun tapi itu bukan suatu kemutlakan. Ada tahun tahun dimana terjadi anomali seperti pada tahun 2010 . Karena itu membeli pada akhir tahun bukanlah langkah bijaksana, belilah ketika dana ada karena itulah kesempatan kita membeli dinar walau harga tinggi dan bisa jadi pada saat dinar harga sedang turun malah anda tidak memiliki dana.

Semoga bermanfaat :-)


Disadur dari dinarbandung.com

Senin, 05 Maret 2012

Gadai Dinar Emas di Bank Jabar Banten Syariah (BJBS)

Kata-kata menggadaikan emas akhir-akhir ini identik dengan istilah "Berkebun Emas". Mengapa demikian? Dikarenakan, motif pelaku gadai emas lebih banyak karena ingin "Berkebun Emas". Hanya sedikit pelaku gadai yang menggadaikan emas mereka dengan maksud dan tujuan untuk pembiayaan modal usaha, pembayaran yang mendesak, kebutuhan uang mendesak, dan lain sebagainya.

Fenomena "Berkebun Emas" memang telah menjadi fenomena tersendiri yang memancing beberapa Bank Syariah saling latah memfasilitasinya dengan menyediakan emas LM Antam dalam berbagai ukuran.

Rupa-rupanya fenomena "Berkebun Emas" ini tidak dibarengi dengan edukasi dan kontrol yang cukup dalam membatasi aktivitas penggadai. Dalam beberapa kasus ditemukan macetnya kredit gadai emas dikarenakan penggadai emas tidak mampu melunasi emas-emas yang digadaikan pada tempo waktu yang telah ditentukan. Faktor utama yang menyebabkan demikian adalah karena kurang mampunya penggadai dalam memprediksi harga emas, disamping itu, sang penggadai ini banyak yang terlalu bernafsu sehingga akhirnya memilih untuk "Menanam Emas" dengan ukurang yang besar seperti kepingan lebih dari 100gr.

Banyaknya kasus tersebut membuat Bank Indonesia akhirnya membuat regulasi khusus dengan membatasi jumlah pembiayaan gadai emas di Bank-Bank Syariah menjadi maksimal 100gr saja. Bahkan BI juga untuk sementara waktu melarang beberapa Bank Syariah untuk menerima gadai emas, contohnya di Bank Rakyat Indonesia Syariah dan Bank Mandiri Syariah. Padahal kedua Bank inilah yang menjadi pilihan utama para penggiat kebun emas.

Tulisan saya kali ini bukanlah menceritakan tentang berkebun emas, tetapi saya ingin berbaqi pengalaman saya dalam gadai emas. Pada awalnya saya berniat untuk menggadaikan dinar emas saya yang berjumlah 2 keping untuk mendanai tambahan modal usaha clothing yang ingin saya mulai. Akhirnya saya mencoba untuk mendatangi BRIS Kota Cimahi dan mendapatkan informasi dari pejabat bank tersebut bahwa untuk sementara gadai emas dilarang oleh BI.

Saya masih penasaran, akhirnya saya coba menuju BSM (Bank Syariah Mandiri) untuk menanyakan tentang gadai emas. Lagi-lagi saya mendapatkan jawaban yang sama bahwa untuk sementara Bi melarang aktivitas gadai emas di BRIS dan BSM. Si pejabat BSM tersebut akhirnya menyarankan saya untuk mencoba menggadaikan emas saya di Bank Jabar Banten Syariah (BJBS) saja karena BJBS tidak termasuk Bank yang dilarang oleh BI.

Saya pun segera menuju BJBS dan menuju loket gadai. Sang pejabat Bank yang cukup ramah ini langsung memberikan segala informasi yang terkait sistem gadai emas di BJBS. Sebagai syarat awal adalah harus membuka rekening terlebih dahulu, hal ini akan mempermudah Bank apabila nasabah ingin agar pembayaran atau penebusan gadai dilakukan hanya dengan mendebet otomatis.

Di BJBS ini, sebagai awal proses akad gadai, gadai emas sendiri dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu Logam Mulia dan perhiasan. Emas dan dinar dikelompokkan ke dalam Logam Mulia yang memiliki taksiran gadai sebesar 90% dari harga emas ssat itu. Sedangkan untuk perhiasan memiliki taksiran yang lebih rendah yaitu 85% saja.

Selanjutnya adalah biaya titip emas atau safety deposit box di BJBS itu dibayar diawal. Pejabat gadai akan bertanya ke penggadai berapa lama emas yang akan digadai tersebut akan dititip. Biaya titipnya sendiri adalah sekitar 1,1%/harga gram/bulan.

Berikut akan saya sampaikan info lengkap tentang gadai emas BJBS.

Persyaratan Nasabah
Persyaratan bagi Nasabah yang ingin mengajukan permohonan pembiayaan Gadai Syariah antara lain:

  1. Perorangan (WNI) dan atau Badan Usaha Indonesia.
  2. Cakap Hukum.
  3. Kartu Identitas diri (KTP/SIM/Passport) yang masih berlaku.
  4. Mempunyai atau membuka rekening di Bank
  5. Menyampaikan NPWP untuk pinjaman yang memiliki nilai plafon tertentu sesuai ketentuan yang berlaku.
Obyek yang dapat diterima sebagai jaminan

  1. Emas dalam bentuk perhiasan seperti: Kalung, Gelang , Cincin, dsb.
  2. Koin/uang emas seperti: Dinar, Souvereign, Eagle Dolar, dan sebagainya.
  3. Emas batangan/lantakan seperti: Logam Mulia, Emas London, Leburan Wahyu, dsb.

Objek jaminan memiliki kadar minimal 16 karat, Jangka Waktu Pembiayaan sesuai dengan kesepakatan dengan Minimal jangka waktu pembiayaan satu bulan.

Akhirnya saya pun memutuskan untuk menggadaikan 2 keping dinar saya seberat 8,5 gram di BJBS selama setahun dengan nilai Rp 2.491.000. Biaya titipnya sendiri hampir Rp 500.000 selama setahun untuk berat emas sebesar 8,5 gram tersebut.

Seperti yang diceritakan di awal bahwa hasil pinjaman gadai emas ini akan saya putar sebagai tambahan dana memulai usaha clothing saya yang membutuhkan total modal sebesar Rp 6.500.000. Sisa hampir Rp 4.000.000 berasal dari tabungan pribadi saya sendiri.

Bagi yang membaca, thanks ya.
Semoga bermanfaat.

Kamis, 02 Februari 2012

Desember 2011 : Awal investasi dinar emas! Rencanakan masa depan semenjak dini.

Jujur saja, sebenarnya gw ga terlalu peduli akan emas dan kesaktian emas sebagai jaminan masa depan kita. Soalnya, pola pikir gw masihlah jangka pendek, seperti yang penting gw mulai jadi karyawan di bulan juni 2012 dan kepastian akan dikontrak selama 5 tahun, setelahnya gimana nanti aja, sangatlah ga berencana kan?

Entah darimana mulainya , gw tertarik untuk mengenal emas setelah membaca tweet teman SMA gw, Reza, yang ternyata seorang penggiat KEBUN EMAS. Akhirnya gw mulai cari tahu apa sih KEBUN EMAS. Setelah gw selidiki, berkebun emas adalah suatu teknik pemanfaatan emas dengan model beli gadai bertingkat yang berpotensi menghasilkan keuntungan lebih dibandingkan model investasi konvensional dengan cara disimpan saja.

Disitu sebenarnya gw masih belum beranjak tapi udah mulai memikirkan tentang potensi emas. Akhirnya gw mulai ikut mem-follow akun twitter pakar-pakar emas seperti Bapak Endy Kurniawan (@endykurniawan) dan Bapak Ahmad Gozali (@ahmadgozali).

Perlu diketahui bahwa pak Endy ini ternyata adalah seorang penulis buku Best Seller berjudul 'Think Dinar' yang faktanya mulai menggelitik hati gw untuk membeli dan membacanya.

Singkat cerita, sumpah, pola pikir gw berubah total setelah selesai membaca buku tersebut. Sangat-sangat merubah total pemikiran gw selama ini tentang manfaat berinvestasi emas dibanding menabung di bank.

Gw sangat merekomendasikan sobat sekalian untuk membaca buku 'Think Dinar' sebagai salah satu bacaan wajib kita sehari-hari. Di buku tersebut kita akan mempelajari apa sih emas itu? Apa sih Dinar itu? Bedanya antara emas batangan dan dinar emas dimana? Lebih menguntungkan mana memiliki emas atau menabung di bank maupun deposito? Semuanya dibahas disini.

Ga perlu waktu lama buat gw untuk segera bertindak. Gw pengen beli DINAR! Mulailah gw mencari tahu dimana penjualnya yang terpercaya. Disaat gw mencari informasi, gw teringat akan salah satu teman BBM gw yang sebelumnya pernah konsultasi komputer ke gw. Jadi dia sering membuat personal message jualan dinar/dirham gitu. Maka dari sanalah langsung aja gw coba tanya beliau.

Setelah berkonsultasi panjang lebar tentang harga dinar, akhirnya gw langsung menuju TKP di jalan Cihampelas di medio pertengahan Desember 2011 (Maaf gw lupa tanggalnya). Oya nama beliau adalah Johan Lukman dan memiliki website di dinarbandung.com. Gw langsung beli 1 keping dinar seharga Rp 2.220.000. Perlu diketahui, gw sukses mengajak teman baik gw (Maulana Yusuf) untuk ikut memulai berinvestasi dan dia pun juga akhirnya ikut membeli juga 1 dinar.

Salah satu keuntungan yang gw rasakan setelah memulai untuk berinvestasi emas adalah niatan untuk tidak lagi boros dan berhura-hura, melatih hemat, cermat, dan berpandangan jauh ke depan. Dinar emas ini sangatlah liquid, artinya disaat kita membutuhkan dana tunai, kita bisa langsung menjualnya atau menggadaikannya apabila dirasa mampu untuk segera menebusnya dalam waktu dekat. Dengan fenomena kenaikan rata-rata 20% setahun, emas dan dinar tetaplah pilihan investasi termudah dan teraman yang bisa kita ambil dibandingkan dengan bermain reksadana, saham maupun obligasi.

Rezeki Tambahan

"Rezeki tambahan" Namanya juga pedagang, mendapati pembeli yang menjual kembali barang yang sudah dibeli rasanya biasa. Dan saya ...