Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Januari 2015

Jangan pernah berbisnis online!!

Siapa sih yang ngga kepingin berbisnis? Banyak pelajar atau mahasiswa yang dengan mudahnya diprospek oleh bisnis penjual impian seperti MLM. Lalu tidak sedikit pula karyawan yang nyambi jualan online, atau pelaku usaha yang benar-benar terjun total di dunia usaha membuktikan bahwa semua orang ingin berbisnis.

Namun, berbisnis selalu terkendala oleh satu hal utama yaitu keberanian. Bagi pemilik modal, tentu keberanian dibutuhkan sebagai garansi dalam pengambilan resiko dari setiap dana yang dia pertaruhkan dalam bisnis. Sedangkan bagi yang tidak memiliki modal, keberanian sangat diperlukan karena bisnis tidak lah cocok bagi seseorang yang malas dan penakut.

Saya termasuk dari ratusan atau bahkan ribuan orang yang hanya punya keberanian dalam berbisnis tapi terkendala oleh modal. Lalu bagaimana caranya?

Yap, bisnis online saja. Anda tidak perlu punya toko atau kantor dan tidak perlu stok barang. Yang Anda perlukan hanyalah Handphone dengan koneksi internet. Lalu bagaimana cara kerjanya?

Pada tahun 2010, keinginan saya berbisnis online begitu kuat. Keberanian sangat tinggi namun pengetahuan akan cyber crime kurang. Akibatnya, saya pun ditipu jutaan rupiah untuk pembelian beberapa unit handphone murah fiktif yang nantinya akan saya jual kembali via online. Dan uangnya itu sayangnya dari hasil pinjam yang artinya saya harus berhutang. Sedih :(

Meskipun frustasi, tapi saya tidak lantas menyerah. Akhirnya saya memutuskan untuk memulai bisnis online toko komputer rakitan. Sebagai modal awalan, saya menjual komputer gaming saya dan kemudian saya ganti dengan netbook kecil yang kemampuannya hanya sekedar untuk browsing dan office saja. Sedih memang karena harus meninggalkan dunia gaming tapi apa boleh buat.
No More Gaming. Lets Make Money!!!

Kenapa saya memilih bisnis ini? Alasan sederhananya adalah karena saya suka main games.

"Lakukan yang kamu suka. Dan jadikan itu bisnis." - Bill Gates

Saya mengawali bisnis ini benar-benar tanpa modal. Awalnya saya hanya iseng memasang iklan di tokobagus.com (sekarang OLX). Saya pasang senin, hari selasa deal. Saya pun bersemangat.

Kemudian, saya beranikan diri untuk merambah FJB kaskus yang "katanya" sangat potensial untuk berbisnis online. Dan hasilnya? 2 minggu mengudara, 1 warnet senilai 20 juta di daerah cimahi sukses saya buat.

Di tahun pertama 2011 sampai pertengahan 2012, saya benar-benar menjalankan bisnis ini tanpa modal. Istilahnya, saya hanya seperti mengiklankan toko orang namun saya labeli dengan brand sendiri. Setiap ada pesanan, saya info ke toko tersebut, mereka kerjakan sampai beres, kemudian saya yang antar. Lucunya, saya belum punya motor pada awalnya dan selalu minta diantar teman setiap kali melakukan COD (Cash On Delivery). Begitu seterusnya sampai saya sudah punya cukup modal untuk belanja sendiri langsung dari Jakarta.

Dengan cara tersebut banyak masalah yang muncul. Harga jual yang relatif lebih mahal, order yang sedikit (1 unit per minggu), dan kurang variatif nya spesifikasi komputer yang dapat saya kerjakan. Saya pun akhirnya memutuskan untuk order semua komponen langsung dari Jakarta.

Cara demikian sukses untuk menyelesaikan semua masalah yang ada. Harga jual bisa saya tekan, order meningkat (2 unit per minggu), dan saya bisa menerima spesifikasi komputer yang semakin variatif.

Dalam bisnis, masalah selalu ada. Dan kita sebagai pengusaha dituntut untuk selalu berpikir dan berinovasi. Persoalan baru kembali muncul, kali ini lebih kearah tempat pengiriman barang pesanan saya dari Jakarta. Selama itu, saya meminjam alamat kosan teman karena letaknya yang berada di pinggir jalan raya sesangkan kosan saya terpelosok ke dalam gang kecil. Awalnya tidak masalah, namun karena order saya terus meningkat, otomatis pemilik kosan teman saya ini keberatan. Dan dengan berat hati, saya pun terpaksa merubah alamat pengiriman dan akhirnya memutuskan untuk langsung mengambil sendiri di kantor ekspedisi yang bersangkutan hingga saat ini.

Pada tahun 2013, saya kembali menemukan jalan untuk menurunkan harga jual. Caranya adalah dengan mengorder casing yang secara bobot memakan ongkos kirim di Bandung sedangkan komponen lain yang ringan di Jakarta. Cara ini terus saya pakai hingga saat ini dan order saya pun meningkat menjadi 1 unit per dua hari di awal 2014 dan terus meningkat menjadi setiap hari di penghujung 2014.

Jika di 2011 saya hanya memutar uang di belasan juta per bulan, maka di 2014 saya mampu memutar uang rata-rata di atas 50 jutaan per bulan. Namun, memang bisnis ini meskipun omzetnya besar, tapi margin-nya kecil sekali.

Tidak ada yang mudah dalam bisnis. Ribuan kilometer telah saya tempuh untuk langsung menjangkau konsumen saya. Gunung puntang, lembang maribaya, jatinangor, dan perbatasan cikalong purwakarta adalah rute-rute terjauh yang pernah saya lalui. Saya pakai motor dan sendirian, hehe. Saya ingin menampilkan citra bahwa saya penjual online yang jujur dan serius. Imbasnya pembeli pun merasa segan dan terbentuklah jaringan-jaringan yang di kemudian hari sangat bermanfaat bagi saya. Social proof!!!

Dalam bisnis, harga jual memang penting tapi bukanlah yang utama. Harga lebih mahal tidaklah mengapa apabila kita bisa menggantinya dengan benefit yang sesuai dan menarik. Yang perlu kita lakukan adalah memastikan benefit yang kita tawarkan sampai pada mereka.

Sebagai contoh di bisnis komputer saya ini, saya tawarkan benefit yang tidak semua penjual lain berikan. Anda ingin barang super murah? Silakan beli di Jakarta, tapi jangan harap bisa tanya banyak-banyak. Istilahnya "just take it or leave it". Mau info lebih, googling aja dulu. Saya hadir menawarkan solusi dengan konsultasi gratis soal komputer. Segala bentuk pertanyaan soal perencanaan, bajeting, spesifikasi, lebih bagus mana, cocoknya gimana, dan lain-lain harus mampu kita jawab dengan sebaik dan seramah mungkin. Otomatis disini saya perlu terus menambah pengetahuan saya di dunia IT.

Benefit yang lain adalah soal delivery. Bandung semakin macet, waktu sebagian orang terbatas oleh kesibukannya masing-masing, dan era digital sekarang memudahkan kita untuk membeli barang (googling-calling-cash on delivery). Saya pun masuk ke ranah ini. Bahkan pembeli saya tidak perlu transfer DP atau bahkan melakukan transfer penuh. Padahal toko-toko lain tidak akan pernah mau melakukan hal ini, namun saya berani.

Saya hanya minta alamat jelas pemesan dan mempelajari sisi psikologis mereka saat chatting. Akan terlihat apakah mereka pembeli serius atau bukan dan selanjutnya biarkan "feeling" saya yang menentukan. Lalu bagaimana bila ternyata si pemesan melakukan "bid and run"? Biarkan saja, artinya saya lagi apes dan harus menambah stok barang, nanti juga pasti akan laku juga, banyak berdoa saja. Lagipula saya bukan berjualan makanan yang akan basi kok. Woles!! :)

Bagaimana dengan pemesan dari luar kota Bandung? Banyak banget gan! Dari Aceh sampai Papua pun nota dengan label Straw Computer sudah mampir Namun, sayangnya saya masih kesulitan mempercepat waktu pengiriman.

Benefit terakhir yang saya tawarkan adalah isi penuh harddisk. Games dan Film adalah dua jenis konten hiburan modern yang tidak akan ada habisnya. Selalu saja ada penikmatnya. Memang ini merupakan pelanggaran hak cipta tapi apa boleh buat, strategi ini nyatanya berperan besar. Anda ingin komputer lengkap dengan Games dan Film HD yang telah terisi penuh di hard drive, maka hubungi saya. Lalu bagaimana dengan toko lain? Jangan harap, mereka umumnya lebih memfokuskan pada penjualan barang saja. Tidak pernah secara khusus menawarkan hal ini.

Saya telah membangun reputasi yang cukup baik selama 4 tahun ini dan sudah waktunya di tahun 2015 ini untuk membuka toko riil pertama saya. Tak lupa juga mengajak beberapa rekan saya untuk membantu. Saya optimis ini akan semakin mem-boost bisnis saya. Dan jika bagus saya akan menambah lagi yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Tapi fokus utama saya tetap bisnis online. E-Commerce akan semakin menjadi tren. Kita harus terus bersiap dan berbenah.

Tidak semua orang ditakdirkan menjadi pengusaha, namun semua orang bisa berwirausaha. Modalnya menurut saya hanya satu, berani. Saya belum bisa disebut berhasil, tapi saya selalu bersyukur bisa mendapatkan semua pengalaman ini. Semoga kita semua bisa berwirausaha, ikut membantu membangun Indonesia, membangun ekonomi, dan membantu sesama.

@strawcomputerid
@trickk on kaskus (Straw Computer Bandung)

Sabtu, 29 November 2014

Dentingan Piano Cinta

Cerpen


Malam ini begitu spesial bagiku. Malam yang ditunggu-tunggu. Malam dimana ingin kutunjukkan seluruh kemampuanku. Khususnya, pada sesosok malaikat hebat yang telah lama menjadi inspirasiku. Karena dirinya lah aku bisa menjadi seperti ini. Menjadi yang saat ini.

Dengan mengenakan setelan jas hitam dan dasi kupu-kupu. Aku bersiap menuju panggung istimewa untuk yang pertama kalinya. Ingin sekali dirinya ada disini, melihat dan mendengarkanku dari salah satu kursi penonton. Hati ini sungguh bergelora. Begitu semangat. Terhapus semua kegugupan yang menyelubungi seluruh tubuh. Aku ingin tampil sempurna. Sesempurna kesungguhan hatinya saat itu. Dan seketika aku teringat masa lalu.

................

"Gw ga bisa main musik! Dan ga minat. Jadi, jangan pernah ajak gw nge-band lagi." sergahku saat teman-teman dekat SMA mengajak bergabung dengan band yang mereka bentuk khusus untuk acara class meeting nanti.

Ada alasan mendasar mengapa mereka sampai mengajak aku bergabung. Aku dibesarkan oleh keluarga musisi. Ayah adalah seorang gitaris grup orkestra yang cukup terkenal saat itu. Sedangkan ibu juga merupakan salah satu penyanyinya. Mereka pun bertemu disana hingga kemudian menikah dan memiliki dua orang anak yang salah satunya adalah aku. Kakak perempuanku satu-satunya mengikuti jalur ibu menjadi penyanyi. Dan kini menjadi penyanyi lepas di kafe. Sedangkan aku semenjak kecil berlatih piano klasik.

Aku sangat mencintai piano. Aku sendiri yang memilihnya ketika ayah mengajak aku berkunjung ke studio grup ayah ketika menginjak usia 6 tahun. Disaat ada banyak instrumen yang ada disana, aku langsung mendekati piano dan berusaha untuk memainkannya. Kulihat ayah pun tersenyum dan langsung mendaftarkan aku di tempat les piano untuk mengasah minatku ini.

Aku ingat betul bagaimana ayah dengan penuh semangat mangantarkanku ke tempat les atau sekedar berlatih di studio. Ayah sering menjanjikan sebuah piano yang aku tahu harganya sangat mahal. Aku tak pernah bermimpi untuk memilikinya. Aku masih bisa berlatih di studio ayah. Namun, ayah bersikeras.
"Kamu harus mengembangkan bakatmu. Ayah akan belikan kamu piano suatu saat nanti. Ayah janji"
Dan saat-saat yang ditunggu itu pun tiba. Ayah membelikanku piano tepat di hari ulang tahun yang ke-15. Aku sangat bahagia. Kulihat ayah tersenyum puas. Aku pun berjanji untuk berlatih keras. Aku ingin membuatnya bangga suatu saat nanti.

Hari demi hari kusibukkan diri ini untuk berlatih. Aku tak tertarik untuk menghabiskan masa remaja untuk berkumpul atau mungkin memiliki kekasih seperti umumnya anak muda seusiaku. Aku hanya fokus pada diri sendiri.

Namun, segalanya berubah ketika kejadian pahit itu menimpa keluargaku. Ibu selingkuh dan kemudian meminta cerai. Ayah berusaha untuk mempertahankan keutuhan keluarga namun perceraian nampaknya tidak mampu dihindari. Ibu selingkuh dengan seorang produser kaya raya dan kemudian menetap di luar negeri.

"Ibu jahat. Ibu ga sayang sama ayah. Ibu ga sayang sama Robi juga kakak. Kenapa sih Bu? Ibu egois. Aku benci ibu!!"


Aku emosi. Entah bagaimana caranya, aku sampai hati menghardik ibuku sendiri. Suasana sidang amat mencekam. Kulihat kakak menangis hebat di sudut ruangan sementara ayah berusaha menenangkan. Ibu menangis sepanjang sidang. Mungkin saja air mata palsu. Sang produser mencoba merangkul ibu. Sungguh pemandangan yang memuakkan. Ingin segera kuhapus memori ini. 

Sebelum berangkat ke luar negeri, ibu mengirimkan pesan singkat.

"Tolong jaga dan rawat ayah kamu. Ibu terpaksa harus melakukan ini semua. Sampai kapan pun ibu akan tetap menyayangi dan mendukung kamu."

Aku tidak mengindahkannya. Bagiku, ibu tetap lah seseorang yang egois. Hati ini sudah kadung terluka. Aku tidak akan mampu memaafkan ibu, sampai kapanpun itu.

Ayah terlihat sangat terpukul dan beberapa bulan kemudian jatuh sakit. Aku tahu ayah sangat mencintai ibu. Dokter mendiagnosa bahwa ayah terkena serangan jantung dan butuh biaya yang cukup besar untuk proses operasinya. Aku pun tak tahu harus berbuat apa-apa. Kakak meminta untuk menjual piano kesayanganku karena hanya itulah barang mahal yang kami punya untuk membiayai pengobatan ayah. Aku pun dengan berat hati menjualnya. Aku sedih. Sulit menerima dan menyikapi hal ini. Aku semakin membenci ibu.

Ayah berangsur-angsur pulih. Namun dirinya terlihat lebih tua dari seharusnya. Begitu rapuh. Hingga tak tega diri ini setiap kali melihatnya. Namun aku sangat menyayanginya.

Semenjak kejadian itu, semangat dan hasratku memudar sedikit demi sedikit. Aku tak tahu arah. Rasanya tak mau lagi menatap masa depan. Sulit rasanya menumbuhkan motivasi disaat keluargaku hancur. Ibu selingkuh, ayah sakit-sakitan, dan kakak terasa jauh dariku padahal aku sangat butuh bimbingannya yang saat itu tak mampu aku dapatkan.

Untuk mengusir rasa kesedihan, aku mulai bergaul dengan banyak teman. Tapi, aku enggan apabila mereka berbicara tentang musik ataupun piano. Tidak sedikit dari teman ataupun guru yang meminta aku untuk bermain piano lagi. Namun, dengan tegas aku menolaknya. Setiap kali melihat piano, hati ini rasanya perih. Dan aku pun menjadi teringat selalu perceraian ayah dan ibu.

Hidup penuh kesedihan ini berlangsung cukup lama hingga aku menemukan satu titik yang membuat semangat ini kembali hidup, kembali membakar, dan kembali meraung selayaknya seorang gladiator yang siap untuk menerjang siapapun lawannya.

Aku menemukan kenyataan yang selama ini dirahasiakan oleh ayah dan ibu. Rahasia ini sungguh membuatku semakin menyayangi ayah dan entah mengapa membuatku merelakan dan memaafkan keputusan ibu untuk bercerai.

Rahasia ini diungkapkan sendiri oleh kakak sesaat setelah ayah meninggal dunia ketika usiaku menginjak 18 tahun.


"Adikku Robi. Selama ini aku menjauh darimu karena sejujurnya aku membenci kamu dan juga keputusan ayah yang ingin mengembangkan minat kamu di piano."
"Asal kamu tahu bahwa keluarga kita tidak cukup mampu untuk membeli sebuah piano yang kamu sendiri tahu berapa harganya. Namun, sayangnya ayah sangat bersikeras untuk membelikannya kepadamu. Ayah sangat yakin akan potensi kamu."
"Akhirnya, ayah memutuskan untuk membelikan piano itu dari hasil pinjaman seorang produser kenalan ayah yang kini menjadi suami baru ibu. Ibu dan aku sangat menentang hal itu karena kami tahu bahwa ayah akan sulit untuk melunasi hutangnya itu."
"Sampai akhirnya 2 tahun kemudian, sang produser menekan ayah untuk segera melunasinya atau kalau tidak akan membawanya ke polisi. Aku tahu ayah tidak akan mampu melunasinya. Dan sang produser pun menawarkan solusi kepada ayah untuk menceraikan ibu dan merelakan ibu untuk menikah dengan dirinya."
"Rupanya sang produser ini adalah mantan kekasih ibu dulu. Namun, pada akhirnya ibu lebih memilih ayah. Dan hal itu nampaknya membuat sang produser kecewa dan kini memiliki kesempatan untuk memanfaatkan ayah."
"Kini kamu harusnya telah sadar betapa ayah begitu menyayangi kamu dan berupaya sekuat tenaga untuk mendukung kamu. Aku juga ingin kamu menghargai dan memaafkan keputusan ibu untuk menikah lagi. Aku harap kamu bisa berubah dan kembali bersemangat untuk mewujudkan cita-cita ayah dan kita sekeluarga."
"Maafkan aku yang justru menjauh darimu karena sejujurnya hatiku terus saja menyalahkan kamu atas semua yang menimpa keluarga kita."

Akupun menangis. Entah mengapa air mata ini begitu mudah mengalir membasahi pipi. Namun, setelahnya aku merasa tenang. Aku merasa menjadi seseorang yang baru. Dan aku pun berjanji pada diri ini untuk berjuang dan berupaya untuk berlatih hingga menjadi pianis terkenal suatu saat nanti. Menyelenggarakan konser tunggal, itulah mimpiku.

Aku tahu aku mungkin salah karena memilih untuk mempelajari alat musik yang harganya sangat mahal. Andai saja aku lebih memilih gitar seperti halnya ayah dulu, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Tapi, aku merasa mungkin inilah takdir dan cerita yang ingin Tuhan berikan kepadaku. Aku tidak akan menyia-nyiakan hal itu.


-----THE END-------
Cerpen by trickk (Des 2014)
Genre : drama, family

Minggu, 02 Maret 2014

Jangan Naik Bus jika Belum Pernah! Gue korbannya.

Cerpen

Gemerlap lampu-lampu hias ini sungguh mempesona. Udara dingin khas Eropa yang begitu menusuk tulang pun tak mampu jadi penghalang. Semangatku membara. Malam tahun baruku di Paris, di depan Menara Eiffel haruslah berkesan.

Kupegang erat terompet dan kamera pun telah siap. Tak kupedulikan lagi sekitar, hanya fokus pada diri sendiri, menghitung mundur detik demi detik menjelang awal tahun. Sampai tiba lah waktunya.

"Teeet...teeet....teeet....." bunyi terompet mulai terdengar dan semakin meriah.

Awal tahun telah datang. Segera kuberdoa untuk kesehatan dan kesuksesanku di tahun yang baru ini. Kulihat jam handphone untuk memastikan, anehnya justru menunjukkan pukul 6.00. Kucoba melihat sekitar, entah mengapa matahari terlihat muncul tepat di belakang menara Eiffel.

"Well, sepertinya Paris merayakan awal tahun barunya setiap jam 6.00 pagi. Keren juga. It's Okay! No Problemo!" gumamku.

Aku berkeliling mengitari menara Eiffel. Aku sangat bahagia bisa merayakannya disini. Aku bisa berbangga hati bila nanti kuceritakan kisah ini kepada teman-teman pabrik di Bandung. Mereka pasti iri, aku yakin itu.

"Bruuk..." ada benda jatuh tepat di kepalaku. Sakit sekali.

Kupegang benda itu. Kucoba membuka mata sekuat tenaga. Kutatapnya dengan teliti. Dan kubaca dalam hati.

"Operation Manual TBA 22 TetraPak Filling Machine"

"OMG, kenapa buku setan ini ada di Paris????? Apa-apan sih ini????" 

Kucoba memalingkan muka dan kudapati diri ini tengah berbaring di kasur kamarku yang lusuh.

"Kampret, gue kesiangan!!!"

Kulihat jam handphone yang tengah menunjukkan pukul 06.30.

Segera ku menuju kamar mandi dan mencuci muka.

"Gak perlu mandi lah kalau begitu." pikirku.

....................................

Kuambil kunci motor dan memanaskan motor kesayanganku. Namun celakanya, motorku ini tak jua hidup.

"Ah gila, gue lupa ini motor abis bensin semalem." hardikku dalam hati.

Tak banyak berpikir, langsung saja kutinggalkan motor dan mengunci kamar kosku.

"Naik bus aja kali ya. Cobain deh sekali-kali. Biar telatnya sekalian. Mampus-mampus deh gue!"

.......................................

Kulihat jalan raya Cimahi telah padat seperti biasanya. Mobil, motor, dan angkutan umum seakan tiada berujung. Entah apabila aku telah naik bus nanti, akan sampai pabrik jam berapa, pikirku.

"Bro, kalo lo mau naek umum ke pabrik. Lo naek bus aja. Lebih cepet. Gak kaya angkot yang kebanyakan ngetem. Ongkosnya murah pula. Lo tau sendiri kan, bus ongkosnya jauh dekat dua rebu."

Pesan sahabatku inilah yang meyakinkanku naik bus ketika sewaktu-waktu membutuhkan. Dan benar saja, kulihat ada beberapa bus yang lalu-lalang di depanku.

"Wah, naek bus gampang kayanya, gak perlu nunggu lama. Gak sampe 5 menit sekali lewat. Naek ah gue kalo bus nya agak kosong, biar gak perlu berdiri segala, ditambah nyium-nyium bau ketiak orang. Cape deh di bus harus berdiri. Lumayan jauh bro!"

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Bus idamanku terlihat muncul dari kejauhan. Tak tampak kepadatan manusia di dalamnya. Tak tampak pula cat dan bentuk yang memprihatinkan selayaknya bus kota pada umumnya. Bus ini terlihat bersih dan terawat. Segera kulambaikan tanganku untuk memberhentikannya.

"Bismillah. Ini adalah pertama kalinya ku naik bus kota. Mudah-mudahan dijauhkan dari segala bahaya dan selamat sampai tujuan. Amin." kuucapkan doa ini ketika melangkahkan kaki menaiki anak tangga bus idamanku ini.

Kulihat seisi bus dengan seksama, sungguh tampak eksklusif dan rapi. Meskipun tidak ber-AC, namun suasanya hening. Penumpangnya pun menggunakan pakaian yang seragam, terlihat gagah dan rupawan. Segera saja kupilih kursi persis di belakang supir sebelum mereka menyadari penampilanku.

Kulihat lagi diri ini dari bawah ke atas. Sepatu hitamku terlihat kotor, meskipun celana hitam bahanku masih tampak rapi. Kaos belel yang aku kenakan dari kemarin masih mampu tertutupi dengan jaket organisasi kampus kebanggaanku. Apabila aku mandi terlebih dahulu dan mempersiapkan semuanya, aku yakin tidak akan sejelek ini, yakinku dalam hati.

10 menit sudah bus ini melaju kencang tanpa mengangkut satupun penumpang tambahan setelah diriku. Aku pikir, bodoh sekali mereka ini lebih memilih berdesak-desakkan di bus kota yang jelek dan bau dibandingkan dengan bus ini yang tampak hening dan rapi. Percobaanku naik bus kota untuk yang pertama kalinya ini berjalan sukses.

Entah mulai kapan, suasana hening yang kurasakan semenjak awal mulai pecah sedikit demi sedikit.

Kudengar beberapa orang di belakang berbisik-bisik memperbincangkan sesuatu.

"Liat deh, ada orang lain salah naik bus. Si supir kenapa ngizinin ya. Siapa tau dia itu penjahat."

"Eh, itu siapa sih? Bajunya lusuh, kayak bukan orang kita."

"Orang baru kali ya? Tapi masa iya belum pake seragam?"

Pada awalnya, aku tak terlalu menghiraukan suara-suara sumbang di belakang yang mengganggu kenyamanan ku dalam menaiki bus untuk yang pertama kali. Namun, setelah kupahami, tampaknya mereka membicarakan satu orang, dan aku tak tahu siapa dia.

Orang salah naik bus, bajunya lusuh, orang baru, penjahat adalah kata-kata kunci yang mulai berputar-putar di kepala. Kucoba menerka siapa orang yang dimaksud mereka. Kucoba menoleh ke belakang dan anehnya mereka langsung serempak diam tak berkata. Segera kupalingkan lagi mukaku ke depan.

"Shit, kayanya gue yang mereka maksud."

"Masa iya sih gue salah naek bus?"

"Gila aja tampang kaya gue dikira penjahat."

"Baju gue gak lusuh-lusuh amat padahal."

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai menghantui meminta penjelasan. Kucoba beranikan diri untuk bertanya kepada supir.

"Punten Pak. Ini bus apa ya? Apa saya salah naik?"

"Oh, bapak bukan karyawan sini ya?" balik tanya supir mencoba memastikan.

"Aih, ini bus karyawan ya pak? Kok ga kelihatan tulisannya?"

"Ada kok pak di samping kanan-kiri bus." jawab supir menjelaskan.

"Pak, saya mau turun disini aja, bisa pak?"

"Oh bisa, emang tujuannya kemana,Pak?"

"Oh, ke tempat saudara Pak. Saya baru pertama ke Bandung. Jadi kurang paham."

Segera kusodorkan uang 10 ribu rupiah ke tangan kiri pak supir seketika bus telah berhenti. Tak ada satupun kata yang mampu keluar dari bibirku. Aku lemas. Aku malu.

...............................The END......................

Cerpen by trickk (2014)
Genre : comedy

Senin, 07 Oktober 2013

Belajar Investasi (Part 1)

Saya mengenal investasi sebenarnya sudah semenjak duduk di bangku sekolah, itupun sebatas pengetahuan dasar tentang investasi yang mampu melipatgandakan uang kita di kemudian hari namun juga memiliki resiko akan hilangnya uang kita tersebut. Setelah saya kuliah, tentunya dengan bekal wawasan yang lebih luas, saya mulai mempelajarinya sedikit demi sedikit.

Memang saya bukanlah seorang Financial Planner ataupun Wealth Planner yang biasa membicarakan tentang perencanaan keuangan, tapi saya bisa menulis pengalaman dan pengetahuan saya tentang bagaimana meyakinkan kita untuk memulai berinvestasi semenjak dini.

Mindset yang biasanya ditanamkan oleh banyak keluarga Indonesia, termasuk saya adalah menabung.  Menabung dengan disiplin memang akan membuat jumlah uang kita terus bertambah. Tapi pertanyaannya adalah apakah jumlah yang bertambah tersebut akan selalu sanggup untuk membeli barang dengan harga yang sama di setiap tahunnya?

Seperti yang kita ketahui bersama, target minimal kita dalam berinvestasi adalah mampu mengalahkan inflasi tahunan. Rata-rata inflasi (kenaikan harga barang) di Indonesia adalah 7-10% per tahun.  Atas dasar itulah, mengapa kita perlu memulai investasi semenjak dini agar hasil jerih payah yang kita kumpulkan selama bertahun-tahun tidak akan  habis digerogoti oleh yang namanya inflasi tersebut. Benar adanya saldo tabungan kita bertambah di setiap tahunnya, tapi sebenarnya daya belinya justru menurun.

Kita semua sepakat jikalau daya beli uang 100rb rupiah 5 tahun yang lalu tidaklah sama dengan daya beli uang 100rb saat ini. Lalu kenapa tidak mendepositokan saja tabungan kita? Dengan asumsi bunga rata-rata 5-6% per tahun jelas deposito tidak mampu mengalahkan inflasi. Oleh karena itu, banyak FinPlan yang menyarankan kita untuk memulai berinvestasi ketika kita mendapatkan gaji pertama atau ketika kita mulai produktif.

Instrumen-instrumen investasi boleh dibilang sangat banyak. Yang populer jelas saja properti (rumah atau tanah), logam mulia (emas dan perak atau dinar dan dirham), pasar modal (saham, obligasi, dan reksadana), lukisan, wine, barang antik, dan barang-barang lainnya yang harganya cenderung naik di masa depan. Kita tidak perlu berinvestasi di semua instrumen tersebut, cukup pilih saja instrumen yang kita pahami betul, baik keuntungan maupun resikonya, dan juga sesuai dengan kemampuan materi, tujuan (jangka pendek/menengah/panjang), dan profil resiko (moderat/agresif) kita tentunya.

Perlu diingat juga untuk memastikan uang yang kita pergunakan dalam berinvestasi adalah "uang dingin" atau uang yang memang tidak kita pergunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan apabila merugi pun tidak akan membebani keuangan kita sendiri. Rasio 30% dari penghasilan bersih per bulan untuk saving atau investasi bisa dijadikan acuan meskipun sebenarnya rasio tersebut menjadi tidak relevan apabila diterapkan oleh orang yang memiliki penghasilan bulanan hingga puluhan juta namun memiliki gaya hidup sederhana. Namun, bagi saya pribadi, sebisa mungkin saya harus menyisihkan sebagian penghasilan saya per bulan untuk berinvestasi.

Salah satu analogi sederhana favorit saya dalam berinvestasi adalah seperti ketika kita menanam pohon. Pohon yang kita tanam tidak akan tumbuh besar apabila kita selalu sibuk melihatnya. Biarkan saja pohon kita ini tumbuh dengan sendirinya seperti halnya nilai investasi kita yang akan tumbuh dengan sendirinya. Tapi mungkin kesalahan ada di saya karena saya tidak menjelaskan dengan jelas bahwa dalam berinvestasi kita harus menetapkan dulu tujuan investasi kita agar hasil investasi kita maksimal. 

Berinvestasi dengan mengharapkan keuntungan besar dalam jangka pendek memang ada tapi pasti cenderung beresiko tinggi. Saya selalu mengingat akan pepatah dalam dunia investasi bahwa “High Gain High Risk” atau semakin tinggi keuntungan maka semakin tinggi resikonya. Resiko tentunya akan terus menurun apabila kita berinvestasi untuk jangka waktu yang lebih lama. 

Di tulisan berikutnya saya akan coba berbagi pengalaman memulai investasi di dinar emas. Cekidot ya..

Selamat berinvestasi dan nikmati hasilnya.......

Selasa, 03 September 2013

This Isn't My December

Chapter One : This isn't My December

Lokasi rumah kosku yang bersebelahan dengan hamparan kebun jagung membuat telingaku sudah tak asing lagi mendengar nyanyian jangkrik. Namun saat itu aku tak merdengar lagi suara itu, "Oh sudah jam 3 subuh, pantes aja ga ada jangkrik." bisikku dalam hati. Kulihat Ucup masih terjaga seraya menonton DVD yang tampak tak lagi menarik perhatianku. Entah berapa judul film yang telah kami mainkan. Kepalaku terus berputar-putar, keringat dingin mulai terasa di sekujur tubuhku, dan jantungku mulai tak beraturan lagi dalam berirama. Ku tak ingat lagi sudah berapa kali kupandangi jam dinding kamarku, lalu kulihat HP ku sambil berharap ada balasan sms masuk yang sudah lebih dari 4 jam kutunggu.

Aku mencoba mengingat kejadian beberapa jam sebelumnya, saat itu sekitar jam 8 malam dan aku sedang santai sambil membaca-baca iklan di internet,

"Cup, ini ada HP murah-murah di Pos Kota. Kita ambil aja 4, nanti dijual lagi, kan lumayan untung, biar urusan gue aja yang ngejualnya lagi nanti."

Aku tahu iklan ini boleh jadi penipuan, tapi hati kecilku mengatakan tidak, pengalamanku pun demikian. Aku sudah beberapa kali membeli HP melalui iklan yang ada di Harian Pos Kota ini dan kesemuanya berhasil.

"Yaudah Di, gue sih mau-mau aja." jawab Ucup singkat.

Aku berpikir sejenak dalam hati, dari mana uang yang akan aku pergunakan untuk membeli HP-HP ini, aku tak punya tabungan, uang bulananku selalu habis terpakai.

"Gimana kalo kita patungan aja, Cup. Tiga juta-an ya. Tapi gue utang dulu ya, gimana?"

"Gue ada sih uang Di, tapi itu dari Bokap gue buat bayar kuliah, tapi ga papa sih gue pake dulu." jawab Ucup dengan yakin.

"Gue ada 500 ribu cup, sisanya elo ya, jadi nanti gue utang 2 juta setengah dulu. Gimana?"

Tanpa pikir panjang, aku langsung mengirim sms ke si penjual menanyakan harga dan cara pembelian HP tersebut. Namun si penjual meminta DP 50%.

                                                     ...................................

Kuingat saat itu sudah jam 12 malam, dan jalan raya Cimahi terlihat begitu lengang, hanya sesekali kulihat mobil yang masih melintas. Kami putuskan untuk mencari ATM untuk mentransfer DP yang diminta.

"Cup, dia bilang barangnya bakal sampe nanti pagi jam 7, katanya sih dia sekalian nganterin pesenan ke Garut juga."

Sesampainya di kamar, aku berusaha untuk tetap berprasangka baik. Demikian juga halnya Ucup, teman satu kosanku itu, dia memang selalu terlihat tenang, aku tak pernah melihatnya tampak memiliki banyak kesulitan. Meskipun keluarganya tinggal jauh di Sumatera, namun tak tampak raut kerinduan di wajahnya seperti halnya teman-temanku yang lain yang masih saja sering mengeluh ingin pulang kampung karena tak kuasa menahan rindu pada orang tua. Ucup memang semenjak SMA sudah merantau, semenjak itulah dia membentuk kemandirian hidup.

                                                                ..............

"Cup, udah jam 3 nih, elo tidur aja dulu, nanti jam 5 abis subuh biar gue telpon orangnya." Aku memintanya untuk istirahat meskipun aku tahu pasti sulit baginya untuk memejamkan mata di tengah kondisi seperti ini.

Aku bukanlah orang yang sering begadang, bahkan tidur larut malam pun sangat jarang kulakukan. Namun lain halnya malam itu, aku sulit sekali tidur. Pikiranku masih terus bekerja memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Aku memperhitungkan akibat yang harus kupertanggungjawabkan. Selain kerugian materiil, aku juga mempertimbangkan hal moriil yang tentu saja akan memberikan dampak serius buatku dan Ucup nantinya. Aku memikirkan bagaimana cara dia membayar biaya kuliah nya, dan juga bagaimana pula aku harus mengganti hutangku padanya.

Tak terasa pagi telah menyapa, kudengar adzan subuh yang bersahut-sahutan pun menggema di udara. Kutatap langit yang masih gelap, dalam hati ku berdoa dengan mantap, namun aku tahu bahwa jam demi jam yang akan datang akan sangat menentukan. Aku harus segera menelpon si penjual, memastikan akan barang yang kami pesan.

Aku mulai menyadari ada hal-hal yang tidak sesuai. Meskipun teleponku diangkat, namun ternyata bukan dia yang menjawab, melainkan supirnya yang menjelaskan bahwa si Bos sedang mandi dan mereka sudah ada di Cimahi dan sedang menginap di Hotel, tak lupa sang supir menjelaskan bahwa aku harus melunasi pembayaran sisanya jika ingin diantar pagi itu juga, namun apabila tidak, mereka akan memprioritaskan pemesan lainnya.

Kulihat Ucup telah muncul di pintu kamarku seraya menanyakan kelanjutannya. Kuceritakan padanya tentang percakapan terakhirku dengan si penjual. Kulihat Ucup tampak ragu namun juga mengiyakan setiap langkah yang aku putuskan. Dia sangat percaya padaku. Dia menyerahkan segalanya padaku.

"Tapi hari ini kita ada kuliah pagi, Cup, UAS pula, gimana dong? Apa kita bolos aja? Ambil susulan?"

Aku tahu ide yang aku sarankan tidak baik. Aku mengorbankan waktu kuliahku untuk hal lain yang belum pasti kebenarannya. Namun juga aku yakin jikalau aku masuk kuliah, aku tak akan mampu berkonsentrasi dengan baik.

Akhirnya kami putuskan untuk membolos kuliah dan memilih pergi ke Bank. Saat itu sudah hampir jam 8 pagi, langit sangat cerah, lalu lintas jalan raya Cimahi terlihat sangat sibuk seperti biasanya. Begitu halnya dengan suasana di Bank dimana kami berdiri pagi itu. Orang-orang tampak melakukan kesibukannya masing-masing. Tak tampak dari wajah mereka satupun yang memancarkan aura kecemasan seperti halnya kami berdua.

"Halo Pak, sekarang ada dimana ya?" sapaku memulai percakapan di telepon.

"Halo pagi, maaf kalo Bapak tidak bisa mentransfer sisanya sebelum jam 9 ini, kami akan berangkat ke Garut dulu." jawabnya padat.

Tak terasa sudah setengah jam berlalu dan kami masih saja terpaku di tempat. Kami masih ragu akan langkah kami selanjutnya. Kami sadar kami telah ditipu dan merugi, namun apabila kami menuruti permintaan si penjual untuk mentransfer sisanya artinya kami akan merugi dua kali.

Entah setan mana lagi yang ada di kedua telingaku, tanpa ragu aku pun meminta ucup untuk menyelesaikan pembayaran ini sekaligus menyelesaikan semuanya.

"Cup, udah transfer aja lah sisanya. Biar deh rugi dua kali. Kita udah terlanjur masuk. Nanti biar kita sumpahin aja duit yang dia dapet tuh bikin dia menderita sampe tua."

Ucup mengiyakan saja perkataanku, dia langsung masuk Bank, mulai menulis form transfer, dan menunggu antrian. Dia memang tidak bisa menggunakan ATM lagi dikarenakan sudah masuk limit transfer harian. Sedangkan aku memilih menunggu di luar dan terus mencoba untuk tetap berhubungan dengan si penjual.

"Di, udah gue transfer. Kasih tau aja orangnya."

Aku dibuat cukup kaget oleh kedatangannya yang muncul tiba-tiba disaat ku sedang berharap cemas menunggu balasan dan telepon dari si penjual yang tak kunjung tiba. Kulihat jam tanganku telah menunjukkan jam 9 pagi, tepat dengan kesepakatan baru yang kami buat dengan si penjual.

Setelah ku kirim sms konfirmasi, anehnya si penjual langsung menelepon balik dan mengatakan bahwa pesanan kami akan diantar segera dan kami diminta menunggu.

Kami tahu, pesanan kami tidak akan pernah datang, sama halnya dengan keyakinan kami bahwa si penjual sudah tentu akan menghilang.

Aku merenung sejenak, andai saja Ucup tidak mentransfer uang kami saat itu. Andai saja Ucup tidak mengiyakan ide gila ku. Dan andai saja aku lebih memilih belajar dibanding membaca iklan itu. Mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi. Ucup tidak perlu kehilangan uangnya yang akan digunakan untuk membayar kuliahnya nanti. Aku juga tidak perlu berhutang sebanyak itu. Dan kami tidak perlu membolos kuliah hari itu.

Kupandangi kalender, kugenggamnya dengan erat, dan kutatapnya dengan lekat. Kutandai hari itu sebagai pengalaman hidupku. Hari itu tepat berada di bulan Desember dimana orang-orang kristiani merayakan Natal, dan orang-orang di seluruh dunia mempersiapkan pesta pergantian tahun. Namun tak demikian denganku, aku yakin aku akan kesulitan melewati pergantian tahun dengan senyuman. Aku kesulitan untuk menghadapi kenyataan pahit ini.

Melalui kejadian ini aku sadar, aku terlalu naif, aku terlalu polos, dan aku terlalu egois. Aku menganggap semua orang itu baik dan jujur. Aku tidak menyadari bahwa di luar sana ada banyak orang jahat yang dengan jeli memanfaatkan kebodohan orang lain. Banyak pelajaran hidup di luar sana yang belum kupelajari.

Meskipun hari itu aku terpuruk, semoga hari itu juga bisa menjadi titik balik ku dalam mengejar semua impianku.



December 2010 by Trickk
Genre : drama, biography

*True Story yang kubuat khusus teruntuk sahabat seperjuanganku, Maulana Yusuf.



Sabtu, 31 Agustus 2013

Pak Sarno, atasanku yang luar biasa

Suara bising malam itu sedikit lebih bersahabat, tidak terlalu membuat telingaku tersayat oleh deru mesin yang biasanya berlipat-lipat. Kulihat mesin yang selalu bersamaku setiap hari sedang dalam keadaan yang sangat menyebalkan. Sebenarnya, hal ini sudah biasa bagiku, bahkan sudah biasa bagi kedua rekanku, Mang Aja dan Reno, yang setiap hari menemaniku.

Segera aku menghampiri mesinku dengan langkah yang mantap, kusiram dan kubersihkan produk-produk hasil produksi yang mengotori kaca-kaca mesinku. "Duh, nge-jam lagi ya?" terdengar suara kekecewaan dari arah belakangku. "Iya, Pak. Setengah jam udah ketiga kalinya nih. Pack-nya penyok-penyok terus" Jawabku cepat. Segera dia mengamati keseluruhan mesin, mencoba menganalisis setiap kemungkinan masalah yang ada.

"Ini ada yang patah volume flap nya." terang A' Randy, begitulah ku memanggilnya, seorang teknisi muda yang biasa memperbaiki mesinku ketika bermasalah. Aku menyadari, analisanya boleh jadi tepat, namun tidak demikian bagi Pak Sarno atasanku. "Coba Pak, saya mau cek cutting unit nya." seru beliau kepada A' Randy. Dengan cekatan beliau meraba, memastikan ada tidaknya bagian mesin yang patah atau tidak sesuai dengan semestinya.

"Ini bukan volume flap nya Pak, ini pasti ada spring di cutting unit yang patah. Coba tolong bongkar bagian ini ya Pak." A' Randy yang tampak ragu mencoba untuk menuruti permintaan Pak Sarno untuk membongkarnya. Benar saja, ternyata ada spring di cutting unit yang patah. Segera setelah diperbaiki, mesinku kini mulai beroperasi dengan semestinya.
   
Begitulah Pak Sarno, meskipun beliau bukanlah seorang teknisi yang bertanggung jawab terhadap kerusakan mesin, namun beliau memiliki analisis yang hampir selalu tepat. Meskipun posturnya kecil dan usia nya sudah menginjak setengah abad, namun langkahnya selalu cepat dan aura wajahnya selalu bersemangat. Tutur kata nya serasi, tanpa pernah mencoba menggurui atau bahkan menghakimi. Beliau selalu total dalam bekerja, tak pernah baginya berpura-pura sakit seperti halnya karyawan lainnya.

Pak Sarno juga tidak pernah menasihati bawahannya secara langsung, tetapi selalu berusaha untuk menceritakan kejadian-kejadian atau contoh-contoh yang berhubungan. Pernah suatu saat beliau menasihatiku. "Mas Tri, kemarin di shift siang ada yang luka kena cipratan steam."

"Oh, ya Pak. Saya harus lebih berhati-hati." jawabku pelan.

Banyak yang menyukai beliau namun juga banyak yang tidak menyukainya. Namun bagiku, beliau adalah sosok yang baik untuk dicontoh dan dihormati. Karena beliau lah, aku mempelajari sosok yang benar-benar meresapi bahwa bekerja adalah sebuah ibadah.



*Cerita pendek inspiratif yang khusus ku tulis dan didekasikan untuk Beliau.

Jumat, 30 Maret 2012

Tips Cari Pemodal Untuk Anak Muda Yang Belum Punya Jaminan

Permasalahan klasik dan sangat umum bagi seseorang yang ingin membuka usaha adalah MODAL. Apalagi apabila si calon pengusaha ini masihlah sangat muda dan belum mempunyai modal maupun jaminan yang cukup.

Di #wiRABUsaha tanggal 28 Maret 2012 lalu, akun @motivatweet membeberkan kultwit tentang tips untuk mencari pemodal bagi anak muda yang belum punya jaminan.

Saya akan merangkumnya dalam poin-poin penting. Cekidot!!!

1) YAKIN aja dulu.. Yakin bisnis kita menguntungkan! Kalo kita yakin, keyakinan itu akan menular ke pemodal

2) Ingat, ANTUSIASME itu MENULAR! Jadi, ANTUSIAS lah pada bisnis kita yg butuh pemodal itu!

3) Jangan sedetikpun merasa RAGU atas bisnis kita, karena calon pemodal akan bisa merasakannya

4) Pergunakan uang IMF alias Istri, Mertua, Family ^_^ Pedekate ke kerabat yang punya banyak duit

5) Motty nyebutnya #LoveMoney ^_^ adalah modal dari kerabat kita atas dasar kepercayaan + kasih sayang

6) Untuk #LoveMoney kadang pemodal siap uangnya hilang. Tapi, tetep KOMITMEN utk mengembalikannya ya

7) Buat proposal yg berisi "10 Alasan kenapa investasi di bisnis saya".. Berikan alasan yang NAMPOL!

8) Berikan porsi bagi hasil yang besar utk pemodal, misal pemodal 70 : kita 30 .. Kecil dulu, jgn napsu

9) Dgn berjalannya waktu, keahlian & kredibilitas meningkat, porsi investasi kita bisa naikkan: 40, 50, dst

10) Makin lama, makin ahli, maka pemodal akan berebutan masukin uang ke bisnis kita lho ^_^ Yakin aja

11) Kalo ada, tunjukkan laporan keuangan bisnis kita yg jelas menunjukkan KEUNTUNGANnya

12) PENTING! Buat catatan keuangan yg rapi. Semua bukti uang masuk terlampir. Ini berguna utk cari pemodal

13) Utk pemula, mulai bisnis yg kecil2 aja dulu sambil belajar. Jadi cari pemodalnya relatif lebih gampang

14) Seiring nambahnya pengalaman, baru besarkan ukuran bisnisnya, cari investor lebih besar

15) Coba dulu ke orang tua deh. Kadang banyak yg cari pemodal di luar, padahal #MamaPapa siap dukung lho

16) Jangan beri janji yang terlalu manis kepada pemodal. Sampaikan juga yang pahit-pahitnya. PENTING

17) Ingat.. Bedakan "pinjaman" sama "investasi". Kalo BANGKRUT, pinjaman harus balik, investasi TIDAK!

18) Krn itu, bilangnya bukan "Saya pinjam buat modal" tapi "Saya cari pemodal buat bisnis saya"

Oke demikian kultwit dari akun @motivatweet. Mudah-mudahan setelah membaca ini diharapkan kawan-kawan bisa langsung dipraktekin.

Semoga bermanfaat.

Disadur dari @motivatweet

Senin, 26 Maret 2012

Anak Pertama

Berikut ini saya mau berbagi kisah pendek yang jujur saja sangat inspiratif dan menyejukkan hati. Kisah ini saya sadur dari kultwit seorang kyai NU terkenal, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Solahuddin Wahid (Gus Sholah), melalui akun twitternya di @gus_sholah.

0. Selamat pagi semua. Ada kisah singkat yg mungkin anda sdh pernah baca. Prasetia. Seorang pemuda naik pesawat udara dari semarang ke Jakarta.

1. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.

2. "Ibu, ada acara apa ke Jakarta?" tanya si Pemuda. "Saya mau ke Jakarta terus ke Singapore nengok anak saya yang ke dua" jawab ibu itu.

3. "Wah, hebat sekali putra ibu" kata si pemuda. "Kalau saya tidak salah, yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya bu? Bagaimana dengan kakak-adiknya?

4. "Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat Kerja di Perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta,

5. yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang."

6. Pemuda tadi terdiam, hebat ibu ini, bisa mendidik putra2-nya dengan amat baik, dari putra ke 2 sampai ke 7. " terus bagaimana dengan putra pertama ibu?"

7. Sambil narik napas panjang, si ibu menjawab,"anak saya yang pertama jadi petani di Jogja. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu luas"

8. Si Pemuda : "maaf, apakah ibu kecewa terhadap putra pertama, adik-2nya berpendidikan tinggi dan sukses dalam karir, sedang dia jadi petani?"

9. Tahukah jawab si Ibu? Dengan tersenyum si Ibu menjawab, "Oo tidak, tidak begitu nak. Justru saya amat bangga terhadap anak pertama saya,

10. karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani" Hikmah : Everybody in the world is an important person.

11. Open your eyes, your heart, your mind, your point of view because we can't make summary before read "the book "completely.

12. That's the wise says. Itulah kisah yang saya ambil dari email yang saya terima. kisah itu dulu sudah pernah saya dengar, tapi tetap punya makna.

Disadur dari @gus_sholah

Minggu, 12 Februari 2012

The Power of Giving - Sedekah

Semenjak kecil, gw dibiasakan oleh Ayah untuk berinfaq Jum'at di Masjid. Jadi, yang diajarkan oleh beliau adalah dengan memberikan uang beliau ke gw untuk memasukkannya ke kotak Masjid, jadi beliau selalu enggan untuk beramal langsung, selalu saja uangnya diberikan ke gw untuk memasukkannya di kotak amal. Begitulah pengalaman kecil gw tentang memberi. Tidak terlalu banyak memang.

Sebenarnya Ayah gw bukanlah tipikal yang gemar bersedekah, tetapi hal-hal kecil seperti yang gw ceritakan sebelumnya cukup memberikan gw pembiasaan yang berharga tentang memberi. Mungkin dikarenakan kondisi keuangan keluarga gw dahulu yang tergolong kurang, membuat masa kecil gw jauhlah dari kata 'memberi'. Justru gw lebih senang berharap pertolongan orang lain, seperti bantuan teman-teman gw. Gw tergolong jarang berbagi atau memberikan barang-barang gw ke orang lain, setidaknya sampai gw akhirnya kuliah dan hidup mandiri di Bandung. Karena di masa kuliah inilah, akhirnya gw tersadar betapa mulia dan bahagianya bisa berbagi kebahagiaan dengan siapapun.

Sedekah merupakan penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan rezeki; bagai sebutir benih yang ditanam akan menghasilkan tujuh cabang, yang pada tiap-tiap cabang itu terjurai seratus biji. Dalam Al Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَٱللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَآءُ وَٱللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (Al Baqarah: 261).

Selain itu seorang hamba akan mencapai hakikat kebaikan dengan sedekah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
لَنْ تَنَالُواْ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُواْ مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imran: 92)

Kejadiannya begini, jujur saja, di awal-awal kuliah gw termasuk yang kurang bersedekah. Mungkin bisa dibilang pelit kali ya. Masalahnya, kalau bicara sedekah menggunakan hitung-hitungan matematika, pastilah akan sulit untuk mendapat rasio jumlah anggaran gw yang dialokasikan untuk sedekah. Kalau menurut hitung-hitungan matematika jaman jahiliyah gw dulu tuh gini; gw dapet uang dari beasiswa sebesar 750rb, dapet dari kakak sebesar 200rb, jadi total gw dapet 950rb perbulan. Pembayaran sewa kos sebesar 350rb, artinya gw masih punya uang 600rb perbulan yang gw alokasikan untuk biaya hidup gw. Dan kalaupun sisa, itu akan gw tabung di bank. Sungguh sangat standar sekali.

Apabila gw pulang ke rumah orang tua gw di bekasi di awal bulan, gw selalu berharap kakak gw ngga "lupa". Ya meskipun secara langsung gw ngga meminta, tetapi di dalam hati gw sangat berharap,hehe.

Begitulah kira-kira pola pikir keuangan gw, padahal kalau bicara sedekah tentulah ngga bisa dipikir secara matematika manusia, sampai kejadian-kejadian yang mampu membuat gw hancur di bulan-bulan akhir 2010. Gw diberi kado sepatu oleh kakak gw yang kalau dirupiahkan sekitar 400rb sebagai hadiah ulang tahun gw di bulan September 2010. Seminggu kemudian gw pakai sepatu ini ke ITB dalam rangka menemani teman-teman sekelas gw yang lagi ikut kontes robot disana. Tanpa punya firasat apapun, gw break sholat dzuhur di Masjid Salman ITB. Sepatu gw taruh saja di tangga menuju pelataran masjid. Gw pun sholat. Yap, seperti yang mungkin sobat duga, sepatu gw raib entah kemana. Gw ikhlas saat itu,hiks.

Gw telpon kakak gw saat itu juga untuk meminta maaf karena ngga bisa merawat sepatu pemberiannya yang masih seminggu usianya, tetapi dengan gampangnya dia bilang akan beliin gw sepatu lagi dalam waktu dekat. Makin bersalah lah gw.

Ngga cukup sampai disitu, bala bencana kembali datang 3 bulan berikutnya, kali ini yang paling membuat gw hancur. Seperti yang gw tulis di artikel sebelumnya, gw tertipu 2,5 juta rupiah karena melakukan transaksi pembelian hp yang barangnya ga kunjung datang via online.

Barulah sederet kejadian tersebut membuat gw mulai berpikir. "Apa iya ini teguran Alloh buat gw? Gw sepertinya kurang bersyukur dan terlalu mencintai harta sehingga enggan untuk berbagi."

Akhirnya di tahun 2011, gw mulai bangkit dan berusaha untuk memperbaiki segala kelalaian gw selama ini. Gw mulai usaha jualan di tahun ini dan alhamdulillah lumayan. Gw juga meningkatkan amalan jum'at gw. Gw selalu teringat nasihat-nasihat tentang sedekah, "Lihat dompet kamu, Sedekahkan lah lembaran uang dengan nilai tertinggi." Artinya, jika gw melihat lembaran 100rb, maka "apeslah" gw,hehe.

Ustadz Yusuf Mansur selalu berpesan, cara awal untuk memulai bersedekah adalah langsung dipraktekkan saja. Pertama coba aja rutin keluarin 10rb di setiap jum'at. Kalau sudah terbiasa, naikan jadi 20rb, terus sampai jumlah yang tidak terhingga.

Analogi sedekah yang paling sederhana itu seperti kita ketika belajar sholat. Mungkin pertama-tama kita sholat karena disuruh oleh orangtua atau ngga ikhlas, tetapi lama-kelamaan karena sudah terbiasa membuat rohani kita merasa butuh dan kehilangan apabila kita meninggalkan waktu sholat meskipun tidak disuruh oleh orangtua. Begitu juga sama halnya dengan belajar bersedekah. Mungkin awalnya kita berat hati dan ngga ikhlas mengeluarkan uang yang kita cintai ini, tapi kalau sudah terbiasa, mungkin saja kita seperti ingin mengeluarkan saja semua harta yang kita punya, karena toh harta adalah titipan Alloh dan merupakan hak-Nya untuk mengatur rezeki kita, jadi ikhlas saja. Faktanya, orang yang sukses itu kebanyakan adalah orang yang dermawan. Mereka ngga pernah takut untuk miskin karena memberi. Justru mereka yakin bahwa dengan memberi, mereka akan mendapatkan lebih.

Di 2011 ini gw mulai membiasakan diri, melatih diri, mengikhlaskan diri untuk belajar bersedekah. Pada akhirnya gw ngga segan lagi memasukkan lembaran uang 50/100rb kedalam kotak amal jum'at. Gw juga udah rutin memberi orang tua di setiap bulannya, begitu juga dengan adik-adik gw.

Gw selalu merenung, andaikan saja umat Islam itu rajin bersedekah, pastilah ngga mungkin ada orang miskin dan meminta-minta di perempatan lampu merah ataupun para santri yang meminta sumbangan pembangunan masjid di jalan-jalan. Padahal jika mendengar kisah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang amat ringan tangan dalam bersedekah. Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu’anhu telah menginfakkan seluruh hartanya dalam suatu kesempatan, dan Umar Radhiallahu’anhu menginfakkan separoh hartanya, sedangkan Utsman Radhiallahu’anhu menyiapkan bekal seluruh pasukan al-‘usrah dan lain-lain sebagainya.

Berbicara sedekah otak kanan, pakar Ippho Santosa selalu berpesan bahwa jika ingin kaya, maka sedekah dulu, bukan kaya dulu baru sedekah. Jika ingin sembuh dari penyakit, sedekah dulu baru memohon dan berikhtiar demi kesembuhan, bukan sebaliknya. Mau punya hajat apapun itu, sedekah saja dulu, baru memohon dan berusaha. Lagi-lagi menurut beliau, sedekah itu ngga bisa dihitung-hitung menggunakan matematika manusia. Ungkapan "Take and give" atau "Ambil dan beri" juga perlu untuk dikoreksi oleh beliau menjadi "Give and Given" atau "Memberi dan Dilipatgandakan". Artinya jika kita sering memberi, otomatis Yang Maha Kuasa tidak segan untuk melipatgandakan. Ingat, rezeki itu tidak selalu berbentuk kekayaan. Kesehatan, jodoh, kelancaran bisnis, dan lain sebagainya dapat dikategorikan rezeki.

Setiap sholat jum'at, gw selalu sempatkan diri untuk mendengar perolehan amal jum'at minggu sebelumnya suatu masjid, si pembicara biasanya menyebutkan jumlahnya, misalnya 250rb. Dalam hati gw jelas pasrah. "Jika saja perolehannya 250rb dengan total jemaah berjumlah mencapai 200 orang bahkan lebih, artinya rata-rata setiap jemaah hanya ikhlas mengeluarkan 1000 rupiah." Padahal apabila seorang saja bersedekah 10rb, mungkin saja setiap jum'at perolehan amal masjid meningkat menjadi 2 juta rupiah.

Yah beginilah memang kenyataan umat Islam negara kita, untuk itu cobalah kita sama-sama intropeksi, "Sudahkah saya berbagi untuk sesama?". Mari kita sama-sama untuk belajar bersedekah, dengan keutamaan sedekah seperti di awal artikel ini, pastilah kita akan dijauhkan dari segala bala bencana, dilipatgandakan rezeki, dan membuat hidup kita menjadi lebih mulia. Mulailah dari diri sendiri, kemudian ajak teman-teman dan keluarga untuk lebih gemar berbagi.

Wallahu a'lam bis sowab.

Senin, 06 Februari 2012

Track Record jualan sebelumnya bagus belum menjamin kejujuran seseorang seller online untuk melakukan penipuan

Hari kamis kemarin ini, saya di invite oleh salah seorang calon pelanggan komputer saya yang ternyata kaskuser. Dia ingin saya merakitkan saja komputer seken yang baru saja dia beli secara online via kaskus juga. Dalam hati saya, "Ya mudah dong, gw cuma ngerakit+instal-instal doang kan."

Singkat cerita hari sabtu paginya dia menginformasikan bahwa komputer seken yang dia terima ga lengkap, jadi vga+psu+hdd nya ga ada, okelah gw bilang ke dia kalau gw nunggu dulu aja sampai semua partnya lengkap.

Sabtu malamnya, dia bbm lagi dan ternyata hddnya aja yang ga ada dan akhirnya beli di gw hdd Seagate 750GB+DVDRW Liteon baru. Dan kita pun janjian esok hari minggu sore untuk ketemuan di kosannya dia di daerah Tubagus Ismail Dago.

Kesan pertama, kosannya bagus dan terlihat mahal. Setelah berkenalan, anggap saja namanya Rio, gw langsung diceritain sama Rio kalau sebenarnya proses pembelian komputer seken tersebut ga berlangsung baik. Ada indikasi penipuan disini. Jadi, barang-barang yang dikirim tidak sesuai dengan kesepakatan awal.

Jadi awalnya si seller asal Lampung ini menjual komputer seken dengan spesifikasi sebagai berikut:
1. Processor AMD Phenom II X4 945
2. Motherboard Gigabyte GA-M68
3. Ram Corsair 4x1GB
4. HDD 500GB+160GB
5. CDRW
6. VGA Calibte GTX560 1GB
7. PSU Seasonic 760W
8. Case VenomRX Habu Full neon
9. Cooler CPU Coolermaster
dengan harga yang disepakati sebesar 5 juta rupiah.

Singkat cerita, si Rio ini memutuskan untuk melakukan sistem pembayaran langsung karena merasa si seller ini sudah cukup punya reputasi yang baik di kasus setelah melihat thread penjualan sebelumnya selalu mulus.

Ternyata di hari ketika barang sampai, ada beberapa part yang tidak disertakan dalam paketan. HDD+VGA+PSU tidak disertakan oleh si seller. Lantas, komplain lah si Rio ini, sayangnya nomor kontak si seller mendadak dinon-aktifkan.

Tidak kehabisan akal, si Rio ini langsung melapor ke polisi dan membuat BAP tentang indikasi penipuan dengan menyertakan beberapa bukti via sms. Berbekal pelaporan ke polisi ini, si Rio mencoba meminta bantuan pihak BCA untuk memblokir rekening si seller.

Tidak sampai disitu saja, si Rio ini juga membuat thread surat terbuka pernyataan penipuan yang telah dilakukan oleh si seller ini di kaskus. Beruntung, kaskuser regional lampung merespon baik dan mencoba mencari segala informasi tentang si seller dan mencoba untuk menerornya.

Merasa ga nyaman, akhirnya si seller muncul juga dengan menelepon si Rio ini dan menjelaskan duduk permasalahannya. Si seller ini beralasan bahwa sebenarnya penjual komputer itu bukanlah dirinya melainkan temannya yang meminjam ID kaskus dia. Si seller ini pun berjanji untuk membantu Rio untuk mencari temannya tersebut. Si seller ini kembali menelepon bahwa dia ga berhasil menemukan temannya tersebut di kosannya dan hanya menemukan sisa-sisa part yang belum diantar (VGA+PSU) dan berjanji untuk segera mengirimkannya. Barang pun akhirnya sampai juga.

Dari cerita tersebut, gw pikir ya ada benarnya juga jikalau manusia itu bisa dengan cepatnya berubah secara sifat. Gw merasa bisa jadi si seller ini sedang butuh uang mendesak dan lain sebagainya yang membuat pada akhirnya dia harus melakukan penipuan meskipun sebenarnya dia punya reputasi yang baik.

Dalam melakukan bisnis online, tetaplah kejujuran dan kepercayaan adalah 2 hal terpenting. Kita harus percaya sebagai seorang calon buyer dan juga harus jujur sebagai seller. Jika seorang calon buyer ragu, ada baiknya melakukan pembayaran melalui pihak ketiga yang bisa dipercaya atau rekening bersama. Gw selalu berharap kedepannya semakin sedikit bentuk-bentuk penipuan online yang terjadi. Mudah-mudahan saja.

Bagi yang mau lihat link thread si rio ini silakan klik

Minggu, 22 Januari 2012

Buka usaha jual beli komputer karena tertipu jutaan rupiah

Siapa sangka gw memulai awal tahun 2011 dengan tidak mengenakkan. Kenapa? Yap, gw termasuk salah satu korban cyber crime yg lagi marak-maraknya saat ini, gw tertipu sebesar 2,5 juta setelah mengadakan proses transaksi fiktif pembelian beberapa HP yang barangnya tak kunjung datang pada desember 2010 silam.

Kejadian tersebut bagaikan sebuah bencana besar dalam hidup gw. Sedih pasti, merasa bodoh pasti, intinya saat itu gw seperti berada pada titik terendah dalam hidup gw sebagai seorang manusia. Bukan apa-apa, uang yang gw pergunain tersebut adalah uang pinjaman dari teman baik gw (Maaf gw rahasiakan dulu namanya) yang bodohnya juga gw ajak gabung juga. Gimana menurut sobat? Dobel kan dosa gw? hiks.

Setelah kejadian itu, pertama pastilah gw menyesal, terutama terhadap diri gw dan teman gw ini. Saat itu, gw sampe bela-belain bolos kuliah karena saat itu pikiran gw kalut tak menentu. Tapi gw percaya kalau Alloh Maha Berencana, esoknya gw kembali menjalani hidup gw seperti biasa dan berusaha untuk tetap tegar agar tidak dicurigai teman-teman sekelas. Gw terus berupaya melupakan dan ikhlas meskipun sebenarnya sulit. Gw juga membayangkan betapa hancurnya hati temen gw ini.

Perlu diketahui, sebagai seorang mahasiswa yang belum bekerja, tentulah keputusan yang dilakukan kami sungguhlah beresiko. Niatnya sih ingin jadi semacam reseller handphone gitu, tapi faktanya mengenaskan. gw kurang teliti saat itu, jujur saja hawa nafsu gw mampu mengalahkan logika sehat gw.

Gw berdoa dan memohon petunjuk dari-Nya untuk dibukakan jalan untuk melunasi hutang gw ke temen gw tadi. Gw janji ke temen gw ini kalau akan melunasi hutang gw ini maksimal 6 bulan atau tepat di bulan juni 2011. Bagaimana cara melunasinya? Gw juga ga tau dong, apalagi gw udah melepaskan diri dari tanggung jawab orang tua semenjak kuliah beasiswa ini. Tapi yang pasti rencananya gw akan menyisihkan uang beasiswa kuliah gw yang saat itu besarnya 855rb per bulannya ditambah hibah dari kakak gw yang besarnya maksimal 200rb perbulannya. Artinya kira-kira gw punya 900-1 juta di setiap bulannya. Uang 1 juta itu juga harus dikurangi sewa kamar kos gw 350rb per bulan. Dengan target 6 bulan, artinya minimal gw harus bisa simpan 400rb per bulannya untuk dicicil (Asumsi 400rbx6 bulan=2,4juta). Kemudian sisa 200-250rb untuk biaya makan gw rasa cukup, tapi pasti akan pas-pasan banget. Tapi bismillah, gw harus bisa belajar bertanggung jawab atas kesalahan yang gw lakukan dong.

Titik balik kehidupan

Rencana yang gw buat sebelumnya ini memang gw rasa sangat-sangat berat dan gw masih ngerasa ga mungkin bisa menyisihkan uang sebanyak itu di setiap bulannya. Akhirnya gw mutusin untuk menjual barang-barang berharga gw, contohnya komputer gw. Gw pikir biarlah gw ga punya komputer, sementara gw lebih baik nebeng temen aja dulu. Alhamdulillah ternyata Alloh berencana lain, di akhir desember datang lah teman kuliah gw (namanya Redi) yang berminat untuk dibuatin 1 unit CPU yang diperuntukkan untuk server pulsa. Dia percaya sama gw soalnya memang kebetulan gw dinilai teman-teman gw sebagai pakarnya ngerakit komputer. Luar biasa, akhirnya gw bisa rakitin komputer ke orang lain dengan orientasi mencari untung. Gw dapet hampir 1,5 juta disini hasil dari untung ditambah penjualan beberapa part CPU gw. (Perlu diketahui, sebelumnya gw udah beberapa kali merakit komputer untuk teman tapi itungannya hanya menolong saja)

Mungkin bisa jadi sobat bertanya sejak kapan dan belajar dari siapa gw bisa ngerakit komputer ini. Gw jawab aja gw murni otodidak. Gw sebenernya ga tau caranya, gw cuma tau nama-nama part, bentuknya, dan fungsinya apa, setelahnya langsung dipraktekin aja.

Sejujurnya gw udah beberapa kali menjual barang, khususnya PDA Phone dengan memanfaatkan internet. Tapi belum menyadari saja bahwa internet memiliki potensi yang besar apabila kita serius menggarapnya. Segala macam keuntungan berjualan online mungkin bisa gw tulis di tulisan gw selanjutnya. Namun, ironisnya ketika gw ingin menjadi pembeli di internet, gw justru mengalami penipuan. :(

Di bulan Januari 2011, gw iseng nawarin sisa hardware CPU yang gw punya untuk dijual di situs tokobagus. Ternyata ada yang minat serius! Alhamdulillah gw dapet hampir 1jt disini hasil dari untung penjualan ditambah sisa beberapa part CPU gw sebelumnya. Barangnya gw anterin langsung ke rumah pembeli di sekitaran dago. Sepulang dari rumah dia, gw justru kepikiran kenapa ga diseriusin aja. Thanks buat agan yang gw sendiri udah lupa namanya yang secara tidak langsung memberikan inspirasi bisnis yang gw harapin setidaknya bisa membantu gw dalam melunasi hutang gw tersebut.

Sepulang dari sana gw berpikir bisa ga ya ini diterusin? Gimana cara memulainya? Apakah gw harus modal dulu dan stok barang-barangnya dulu atau gw iklanin aja langsung? Gw ga punya modal! (Kebetulan gw punya beberapa kenalan baik dengan toko komputer di kandaga sehingga gw berharap bisa dipermudah dalam menyangkut persoalan modal). Ditambah kemampuan berbicara gw juga payah, terus gimana?

Permasalahan yang gw utarakan sebelumnya memang persoalan klasik bagi seseorang yang lagi galau berbisnis. Tapi entah kenapa saat itu cara pikir otak kanan gw lagi berfungsi dengan benar. Langsung aja gw buat iklan di 2 situs jual beli gratis, tokobagus.com dan olx.co.id. Judul iklannya apa? "Jual PC Rakitan Bandung." Isinya? saat itu gw coba tulis iklannya sederhana aja, rancangan spesifikasi hardware PC dibawah 2 jutaan.

Setelah gw baca ulang iklan gw dan melihat iklan-iklan kompetitor sejenis, ternyata isi iklan gw sama aja kaya mereka, gw pikir kemungkinan akan dilihat orang pun kecil. Gw seharusnya kasih yang beda. Gw tau persis toko komputer itu banyak jumlahnya tapi GW HARUS BEDA, meskipun bisa jadi harga yang gw tawarin lebih mahal.

Entah dari mana munculnya, akhirnya gw kepikiran untuk menambahkan iming-iming "Bonus Koleksi Film-film HD+instal Games-games banyak Diantar bandung" di isi iklan gw. Gw ga tau persis, tapi gw yakin ini beda, gw udah ngecek di banyak iklan, ga ada satupun toko komputer yang kaya gw. Yauda, bismillah aja, gw pede posting iklan itu.

Ternyata benar aja, di akhir januari ada peminat lagi yang jauh-jauh dari Cianjur sms untuk minta dibuatin komputer yang katanya untuk dibuat main game Pro Evolution Soccer 2010 tapi dananya terbatas. Dia bilang juga kalo dia pengen di kopiin film-film koleksi gw. Bekerja dong iklan gw?

Setelah berhasil jual komputer ke pelanggan dari Cianjur ini, gw coba ngelihat isi kosan gw sekarang. Gw ga punya lagi komputer (Halo apa kabar tugas-tugas gw?), tersisa cuma casingnya saja, speaker Simbadda, dan 1 unit monitor tabung 17" ditambah uang hasil jual komputer sekitar 3 jutaan. Gw merasa untung karena jikalau gw jual ke orang lain karena butuh uang, gw yakin harga 1,5 juta udah bagus banget. Tapi faktanya, gw bisa dapetin hampir 2 kali lipatnya kan? Sungguh jual beli itu memang sebaik-baiknya pintu rezeki.

Merambah di kaskus

Melihat besarnya potensi pemasaran via internet, akhirnya gw mutusin untuk membuat iklan di forum kaskus di awal februari. Pertama-tama gw mikir lagi, gimana sih buat thread di kaskus? Jujur aja, gw udah join Agustus 2008 tapi sampai februari 2011 gw ga pernah buat thread sama sekali.

Akhirnya gw coba intip thread-thread yang jual komputer di kaskus, well, banyak bener gan! Bisa ga ya gw bersaing? Gw coba teliti masing-masing thread ternyata semuanya itu berasal dari JAKARTA. Kesempatan dong? Gw coba search, ternyata saingan gw di bandung cuma 1. Pede dong gw, akhirnya gw buat aja tuh thread, sedikit banyak mencontek model atau gaya thread jualan yang lain. Oya, gw juga nyertain senjata pamungkas "Bonus Koleksi Film-film HD+instal Games-games banyak Diantar bandung" sebagai pemanis. Judul threadnya? Gw ga tau asalnya darimana, tapi langsung aja gw ketik "Agan2 bandung yang mau rakit PC dikirim COD ato hanya compare harga boleh hub ane". Terus nama toko gw apa ya? Ga pake mikir lagi langsung aja gw cantumin "STRAW COMPUTER". Filosofinya sederhana, gw penggemar manga jepang ONE PIECE, ga ada arti yang lain. Bagi yang mau lihat lapak kaskus gw seperti apa coba aja klik. atau copas aja ke browser bit.ly/StrawComputer

Responnya? Jangan ditanya, luar biasa. Malah di bulan ini gw dapet proyek pembuatan warnet game online berupa 8 unit PC berikut instalasi jaringannya senilai 18 juta rupiah. Untung yang gw dapet? Alhamdulillah sekitar 15% bisa gw dapet. Jujur aja gw ga ada pengalaman bikin warnet gitu. Tapi selalu gw berprinsip, "Asal gw tau konsep dasarnya, gw berani ngerjainnya. Soal gimana caranya itu bisa gw pelajarin sambil jalan." Malahan disini gw ngajak temen gw juga dan bisa berbagi ilmu juga ke dia, dobel dong manfaatnya? Hasil akhirnya pun lumayan menurut gw. Pelanggan gw ini juga puas kok.

Semakin bersemangat lah gw akhirnya. Maka mulailah gw sedikit-sedikit meluangkan waktu gw di sela-sela rutinitas kuliah maupun kerja praktek di pabrik pemberi beasiswa kuliah gw di Bandung untuk setidaknya memperbarui thread jual beli kaskus gw ini setiap harinya. Calon pelanggan berdatangan via sms/telpon/BBM dan gw coba belajar untuk melayani mereka dengan baik.

Omzet per bulan usaha gw ini belasan juta rupiah per bulannya (bahkan tercatat mencapai 29 juta di bulan Februari dan 23 juta di bulan desember) dengan potensi keuntungan sekitar 5-10% nya. Sistem berjualan yang gw pilih adalah model COD (Cash On Delivery). Pembeli memesan, gw rakit dan di bayar setelah barang sampai di tujuan. Gw juga pernah anter pesanan sampai jati nangor, beberapa sekitar soreang, dayeuh kolot, ujung berung dan bahkan gw juga pernah kirim ke Batam yang kesemuanya gw lakukan demi tekad gw untuk melunasi hutang gw tersebut. Mungkin memang usaha gw ini ga seberapa hasilnya. Tapi menurut gw udah lumayan kok, apalagi bagi pemula kaya gw dan masih berjualan di online saja. Persoalan kedepannya gimana, itu juga lagi-lagi gimana nanti aja, setidaknya usaha kecil-kecilan gw ini udah bisa melunasi hutang gw tepat waktu dan secara tidak langsung melatih mental berwirausaha gw.

Singkat cerita, bulan demi bulan gw lalui, alhamdulillah gw bisa melunasi hutang gw sebesar 2,5 juta di bulan mei, lebih cepat 1 bulan dari target gw diawal, membeli laptop seharga 2,45 juta di bulan maret, menyewa rumah selama setahun senilai 2 juta di bulan april, membeli TV LCD 19" senilai 1,1 juta di bulan juni dan akhirnya gw ganti ke TV LCD 22" senilai 1,4 juta, ikut perawatan muka dari september yang menghabiskan 500rb sampai tulisan ini ditulis, jam tangan seharga hampir 500rb di bulan oktober, ganti bb ke bb 9300 seharga 1jt di bulan november, mulai investasi 1 keping dinar emas di bulan desember senilai 2,2 juta dan memiliki tabungan sekitar 7 juta di bulan januari 2012. Rencana Alloh memang luar biasa, gw sama sekali ga bermodal saat itu. Gw hanya bermodal nekat, berdoa, dan yakin saja gw bisa jalanin ini.

Sungguh pelajaran hidup yang ga akan pernah gw lupain akan segala kejadian di 2011 ini. Perlu diketahui bahwa tak seorang pun teman-teman gw tau akan musibah yg gw alami ini, bahkan keluarga gw pun belum gw kasih tau. Gw ingin menyembunyikannya terlebih dahulu. Gw merasa mendapatkan teguran keras dari Yang Maha Kuasa atas segala kelalaian gw selama ini. Gw bersyukur mendapatkan musibah itu, karena memang inilah trigger gw untuk membuka salah satu pintu rezeki yang Alloh sediakan bagi siapapun hambanya yang melakukan bisnis muamalah.

Gw pengen nulis tulisan ini bukan karena sombong tapi karena gw ingin mengabadikan aja kerja keras gw dari muda, ga salah kan? Kali aja setelah membaca tulisan gw ini malah semakin banyak ide-ide brilian seorang calon wirausahawan sukses bermunculan di kepala sobat sekalian. Mengutip perkataan seorang motivator bisnis Jaya Setiabudi tentang the power of kepepet memang ada benarnya juga bahwa terkadang karena sesuatu hal yang mendesaklah seseorang berani untuk membuat keputusan dan keluar dari zona amannya. Tapi tetap saja, mengutip perkataan motivator pakar otak kanan, Ippho Santosa, bahwa bisnis itu bukan untuk dipikirkan dulu, karena ga akan jalan-jalan tapi langsung dilaksanakan, baru nanti dipikirkan dan diperbaiki segala kekurangannya dimana.

CMIIW

Thanks

Dari bisnis MLM menuju bisnis Riil yang berkah

Di usia-usia kritis penuh ketidakpastian kaya gw ini pasti bawaannya pengen ini pengen itu, coba ini coba itu. Apalagi yang menyangkut kemapanan cepat tanpa proses yang jelas dan sungguh-sungguh. Di akhir 2010, gw beberapa kali ikut dan ditawari gabung dalam bisnis bergaya MLM, PT Melia Nature Indonesia, dengan produknya Propolis. Bukannya gw ga mau ya, tapi rasa-rasanya gw ga sreg aja ikut bisnis model beginian. Okelah memang bisnis ini kalau diseriusin akan mempercepat kita mencapai kesuksesan di usia muda. Bukti dan contohnya? UDAH BANYAK! GW NGELIAT SENDIRI! hehe, ga santai.

Tapi setelah gw berpikir sejenak, apa harus gw mencapai kemapanan secara finansial dengan cara mengajak orang bergabung menjadi downline kita dan mendapatkan bonus dari uang downline kita secara tidak langsung? Gw rasa ga harus juga, apalagi setelah gw baca-baca kalau jenis model MLM yang dilarang di banyak negara di luar negeri itu adalah MLM model Piramida, dimana leader membentuk jaringannya kebawah seperti piramida. Okelah di Melia Nature ini dibatasi menjadi 5 baris aja, tapi gw tetep ngerasa ga sreg aja.

Seperti kita tau sendiri bagaimana sulitnya mengajak orang untuk bergabung, skeptis masyarakat, dll. Ditambah oleh kenyataan jikalau muamalah itu sendiri adalah jual beli yang keuntungannya jelas dari profit antara selisih nilai jual beli. Inilah model bisnis riil yang diridhoi Alloh dan rasulnya. Nabi sendiri dulu adalah seorang pedagang bukan. Sukses pula. Jadikanlah beliau sebagai panutan bukan kesuksesan para leader-leader MLM yang kekayaannya itu bersumber dari uang dan kerja keras bawahannya tanpa kejelasan apa barang yang dijual. Sobat boleh protes, tapi gw ga akan berminat lagi ikut MLM model piramida. Mungkin yang model direct selling dan telah terdaftar di asosiasi penjualan langsung Indonesia (APLI) baru deh gw minat.

Setelah gw banyak dirasuki paham-paham MLM jenis piramida, ternyata alhamdulillah awal 2011, gw dapet jalan untuk ngebuka usaha jualan yang insya Alloh halal dan berkah. Yup, gw akhirnya ngebuka bisnis jual beli dan perakitan komputer yang sampai tulisan ini dibuat masih berjalan. Ternyata banyak pelajaran kok yang gw dapetin. Banyak banget. Disini gw jadi bisa melatih mental wirausaha (yang kurang dimiliki sarjana kita kebanyakan), menjalin silaturahmi dan relasi, melatih berbicara, dll.

Modalnya? Nekat gan! Bismillah aja, pake cara otak kanan, dijalanin dulu, diperbaiki sambil jalan kurang-kurangnya dimana. Alhamdulillah, omzet per bulan usaha gw ini belasan juta rupiah per bulannya (bahkan tercatat mencapai 29 juta di bulan Februari dan 23 juta di bulan desember) dengan potensi keuntungan sekitar 5-10% nya. Lumayan menurut gw bagi pemula dan media penjualannya masih sistem online. Di bulan kedua, gw dapet order buat warnet senilai 18 juta, Alhamdulillah ada yang percaya sama gw.

Sekian dulu curhatan gw soal bisnis-bisnisan,gw nulis ini karena ingin mengabadikan aja kerja keras gw dari muda. Tulisan gw selanjutnya tentang bisnis komputer gw ini bisa klik ini

thanks.

Rezeki Tambahan

"Rezeki tambahan" Namanya juga pedagang, mendapati pembeli yang menjual kembali barang yang sudah dibeli rasanya biasa. Dan saya ...