Minggu, 02 Maret 2014

Jangan Naik Bus jika Belum Pernah! Gue korbannya.

Cerpen

Gemerlap lampu-lampu hias ini sungguh mempesona. Udara dingin khas Eropa yang begitu menusuk tulang pun tak mampu jadi penghalang. Semangatku membara. Malam tahun baruku di Paris, di depan Menara Eiffel haruslah berkesan.

Kupegang erat terompet dan kamera pun telah siap. Tak kupedulikan lagi sekitar, hanya fokus pada diri sendiri, menghitung mundur detik demi detik menjelang awal tahun. Sampai tiba lah waktunya.

"Teeet...teeet....teeet....." bunyi terompet mulai terdengar dan semakin meriah.

Awal tahun telah datang. Segera kuberdoa untuk kesehatan dan kesuksesanku di tahun yang baru ini. Kulihat jam handphone untuk memastikan, anehnya justru menunjukkan pukul 6.00. Kucoba melihat sekitar, entah mengapa matahari terlihat muncul tepat di belakang menara Eiffel.

"Well, sepertinya Paris merayakan awal tahun barunya setiap jam 6.00 pagi. Keren juga. It's Okay! No Problemo!" gumamku.

Aku berkeliling mengitari menara Eiffel. Aku sangat bahagia bisa merayakannya disini. Aku bisa berbangga hati bila nanti kuceritakan kisah ini kepada teman-teman pabrik di Bandung. Mereka pasti iri, aku yakin itu.

"Bruuk..." ada benda jatuh tepat di kepalaku. Sakit sekali.

Kupegang benda itu. Kucoba membuka mata sekuat tenaga. Kutatapnya dengan teliti. Dan kubaca dalam hati.

"Operation Manual TBA 22 TetraPak Filling Machine"

"OMG, kenapa buku setan ini ada di Paris????? Apa-apan sih ini????" 

Kucoba memalingkan muka dan kudapati diri ini tengah berbaring di kasur kamarku yang lusuh.

"Kampret, gue kesiangan!!!"

Kulihat jam handphone yang tengah menunjukkan pukul 06.30.

Segera ku menuju kamar mandi dan mencuci muka.

"Gak perlu mandi lah kalau begitu." pikirku.

....................................

Kuambil kunci motor dan memanaskan motor kesayanganku. Namun celakanya, motorku ini tak jua hidup.

"Ah gila, gue lupa ini motor abis bensin semalem." hardikku dalam hati.

Tak banyak berpikir, langsung saja kutinggalkan motor dan mengunci kamar kosku.

"Naik bus aja kali ya. Cobain deh sekali-kali. Biar telatnya sekalian. Mampus-mampus deh gue!"

.......................................

Kulihat jalan raya Cimahi telah padat seperti biasanya. Mobil, motor, dan angkutan umum seakan tiada berujung. Entah apabila aku telah naik bus nanti, akan sampai pabrik jam berapa, pikirku.

"Bro, kalo lo mau naek umum ke pabrik. Lo naek bus aja. Lebih cepet. Gak kaya angkot yang kebanyakan ngetem. Ongkosnya murah pula. Lo tau sendiri kan, bus ongkosnya jauh dekat dua rebu."

Pesan sahabatku inilah yang meyakinkanku naik bus ketika sewaktu-waktu membutuhkan. Dan benar saja, kulihat ada beberapa bus yang lalu-lalang di depanku.

"Wah, naek bus gampang kayanya, gak perlu nunggu lama. Gak sampe 5 menit sekali lewat. Naek ah gue kalo bus nya agak kosong, biar gak perlu berdiri segala, ditambah nyium-nyium bau ketiak orang. Cape deh di bus harus berdiri. Lumayan jauh bro!"

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Bus idamanku terlihat muncul dari kejauhan. Tak tampak kepadatan manusia di dalamnya. Tak tampak pula cat dan bentuk yang memprihatinkan selayaknya bus kota pada umumnya. Bus ini terlihat bersih dan terawat. Segera kulambaikan tanganku untuk memberhentikannya.

"Bismillah. Ini adalah pertama kalinya ku naik bus kota. Mudah-mudahan dijauhkan dari segala bahaya dan selamat sampai tujuan. Amin." kuucapkan doa ini ketika melangkahkan kaki menaiki anak tangga bus idamanku ini.

Kulihat seisi bus dengan seksama, sungguh tampak eksklusif dan rapi. Meskipun tidak ber-AC, namun suasanya hening. Penumpangnya pun menggunakan pakaian yang seragam, terlihat gagah dan rupawan. Segera saja kupilih kursi persis di belakang supir sebelum mereka menyadari penampilanku.

Kulihat lagi diri ini dari bawah ke atas. Sepatu hitamku terlihat kotor, meskipun celana hitam bahanku masih tampak rapi. Kaos belel yang aku kenakan dari kemarin masih mampu tertutupi dengan jaket organisasi kampus kebanggaanku. Apabila aku mandi terlebih dahulu dan mempersiapkan semuanya, aku yakin tidak akan sejelek ini, yakinku dalam hati.

10 menit sudah bus ini melaju kencang tanpa mengangkut satupun penumpang tambahan setelah diriku. Aku pikir, bodoh sekali mereka ini lebih memilih berdesak-desakkan di bus kota yang jelek dan bau dibandingkan dengan bus ini yang tampak hening dan rapi. Percobaanku naik bus kota untuk yang pertama kalinya ini berjalan sukses.

Entah mulai kapan, suasana hening yang kurasakan semenjak awal mulai pecah sedikit demi sedikit.

Kudengar beberapa orang di belakang berbisik-bisik memperbincangkan sesuatu.

"Liat deh, ada orang lain salah naik bus. Si supir kenapa ngizinin ya. Siapa tau dia itu penjahat."

"Eh, itu siapa sih? Bajunya lusuh, kayak bukan orang kita."

"Orang baru kali ya? Tapi masa iya belum pake seragam?"

Pada awalnya, aku tak terlalu menghiraukan suara-suara sumbang di belakang yang mengganggu kenyamanan ku dalam menaiki bus untuk yang pertama kali. Namun, setelah kupahami, tampaknya mereka membicarakan satu orang, dan aku tak tahu siapa dia.

Orang salah naik bus, bajunya lusuh, orang baru, penjahat adalah kata-kata kunci yang mulai berputar-putar di kepala. Kucoba menerka siapa orang yang dimaksud mereka. Kucoba menoleh ke belakang dan anehnya mereka langsung serempak diam tak berkata. Segera kupalingkan lagi mukaku ke depan.

"Shit, kayanya gue yang mereka maksud."

"Masa iya sih gue salah naek bus?"

"Gila aja tampang kaya gue dikira penjahat."

"Baju gue gak lusuh-lusuh amat padahal."

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai menghantui meminta penjelasan. Kucoba beranikan diri untuk bertanya kepada supir.

"Punten Pak. Ini bus apa ya? Apa saya salah naik?"

"Oh, bapak bukan karyawan sini ya?" balik tanya supir mencoba memastikan.

"Aih, ini bus karyawan ya pak? Kok ga kelihatan tulisannya?"

"Ada kok pak di samping kanan-kiri bus." jawab supir menjelaskan.

"Pak, saya mau turun disini aja, bisa pak?"

"Oh bisa, emang tujuannya kemana,Pak?"

"Oh, ke tempat saudara Pak. Saya baru pertama ke Bandung. Jadi kurang paham."

Segera kusodorkan uang 10 ribu rupiah ke tangan kiri pak supir seketika bus telah berhenti. Tak ada satupun kata yang mampu keluar dari bibirku. Aku lemas. Aku malu.

...............................The END......................

Cerpen by trickk (2014)
Genre : comedy

Minggu, 20 Oktober 2013

Memulai memiliki Dinar, selamatkan nilai kekayaanmu


Dinar Antam
Instrumen investasi yang saya pelajari pertama kali adalah logam mulia (emas batangan dan dinar). Memiliki emas sangat cocok bagi investor pemula yang minim pengetahuan seperti saya saat itu. Emas cenderung minim resiko dan termasuk cukup mampu mengalahkan inflasi. Rata-rata kenaikan per tahunnya berkisar antara 10-15%.

Emas memang sangat difavoritkan oleh orang tua kita dahulu (disamping properti) karena harganya yang terus naik setiap tahun dan barangnya atau wujudnya bisa kita lihat dan kita pegang sendiri. Emas juga sangat likuid (mudah dicairkan) yang memungkinkan kita untuk menjual kembali atau menggadaikan emas kita kapan saja. Resiko dalam memiliki emas umumnya dikarenakan bentuk dan ukurannya yang kecil membuat kita harus benar-benar teliti dalam menyimpannya dari resiko kehilangan atau tercuri. Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan menitipkannya di Bank.

Saya banyak membaca artikel dan buku-buku yang berhubungan dengan investasi emas. Salah satu buku yang saya baca adalah buku karangan Endy Kurniawan yang berjudul “Think Dinar”. Buku ini sangat bagus sebagai bacaan awal untuk memulai menabung dan mengumpulkan uang dinar yang diyakini sebagai real money yang tahan terhadap inflasi atau zero inflation. Pepatah yang saya ingat di buku ini adalah bagaimana menjadi seorang muslim yang kaya saat ini dan super kaya di masa depan hanya dengan berpikir secara dinar atau think dinar.

Pada awalnya, saya menganggap emas atau dinar adalah sebagai produk investasi yang cenderung akan naik di masa depan. Namun kini saya lebih memandang emas atau dinar tidak lebih dari hedging atau melindungi kekayaan kita. Karena memang dinar atau emas sejatinya memiliki nilai yang tetap sepanjang waktu, akan tetapi dikarenakan nilai mata uang lain seperti rupiah yang cenderung menurun akibat inflasi maka nilai tukar emas terhadap rupiah menjadi semakin tinggi.

Faktor kenaikan harga emas pun sangat bergantung pada kondisi ekonomi dan politik global. Bahkan 1 keping dinar pertama yang saya beli seharga 2.2 juta di tahun 2011 pernah merosot tajam hingga ke level 1,8 juta di awal tahun 2013. Meskipun terlihat merugi apabila dikonversikan ke rupiah, tetapi sesungguhnya tidak, karena tabungan saya tetaplah 1 dinar. Itulah yang mendasari saya berpikiran bahwa emas atau dinar lebih cocok sebagai alat pelindung nilai (asset) kita.

Saya memilih dinar sebagai keranjang investasi saya yang pertama dibandingkan emas batangan karena sifat dinar yang lebih praktis dan sederhana. Saya membelinya melalui agen dinarbandung.com yang berafiliasi langsung pada geraidinar.com.

Dinar dihitung berdasarkan jumlah koin 1 dinar yang kita punya. Hal ini tentu memudahkan kita apabila kita ingin menjual kembali, yakni dengan hanya melepas sejumlah koin dinar yang diinginkan. Bandingkan apabila kita memiliki emas batangan yang memiliki banyak varian berdasarkan berat. Belum lagi semakin kecil gram emas yang kita punya justru semakin mahal harganya. Emas dengan ukuran gram yang besar memang memiliki harga yang lebih murah namun sifat likuidnya (mudah dicairkan) menjadi semakin sulit. Belum lagi margin (selisih kurs jual beli) dinar cenderung tetap yakni 4%, bandingkan dengan emas batangan yang meskipun memiliki kurs buyback yang sama, namun karena harga belinya yang berbeda (berdasarkan ukuran gram) membuat selisihnya berbeda-beda. Hal-hal tersebut lah yang mendasari saya untuk memilih dinar dibandingkan emas batangan.

Ketika saya mulai memperkenalkan dan mengajak teman-teman dekat saya untuk mulai memiliki emas, saya pun cukup dibuat kewalahan karena mereka umumnya komplain bahwa nilai emas yang mereka punya terus menurun. Menurut saya itulah salah satu resiko dari berinvestasi yang umumnya diabaikan oleh hampir semua investor pemula. Mereka pada umumnya sama, yakni mengharapkan keuntungan besar (high profit) dalam jangka waktu pendek. 

Sementara ini, saya sudah berhenti menabung dinar karena kini saya fokus belajar berinvestasi di reksadana. Pengalaman berinvestasi di reksadana akan saya tampilkan dalam tulisan saya berikutnya.

Setel video di motherboard FM2 "kegedean"? Ini penyebabnya.

Salah satu kasus yang gue temukan ketika membangun PC bertenaga AMD APU FM2 adalah video atau film yang diputar selalu oversized. Semua mainboard FM2 yang telah gue coba rakit, seperti Biostar A55S3, Biostar A75S3, ASRock FM2-A55M-DGS, dll, mempunyai permasalahan demikian.

Pada awalnya gue berpikiran bahwasanya hal tersebut disebabkan oleh player yang biasa gue instal, entah itu media player classic atau JetAudio. Tapi pada kenyataannya, semua player yang gue coba instal pun sama saja. Gue pun udah coba utak-atik semua pengaturan yang disediakan oleh semua player  tersebut. Dan gambar tetap saja oversized.

Usut punya usut, gue coba masuk ke pengaturan aplikasi driver AMD Vision Control Centre. Kita bisa mencapainya dengan cara arahkan bebas pointer mouse ke area desktop, klik kanan dan pilih AMD Vision.

Ternyata hal yang menyebabkan video yang ditampilkan terlihat oversized adalah karena fitur baru AMD Steady.

AMD Steady Video

Secara default, pada saat pertama kali kita menginstal driver ini, kondisi pilihan enable AMD Steady Video dalam kondisi ceklis. Setelah gue coba hilangkan ceklisnya dan kemudian apply, ternyata video yang kita mainkan kembali normal, apapun player nya.

Entah apa fungsi sebenarnya dari fitur AMD Steady Video ini. Namun, menurut situs resmi AMD, AMD Steady Video is a technology designed to eliminate or reduce shakes and jitters during the playback of home video. Tapi, pada kenyataannya gue belum menemukan seperti apa shakes atau jitters yang mampu di tangani fitur ini.

Nenek....

"Le, mbah enek Cipinang meninggal. Ibunya mama meninggal."

Ya, nenekku telah tiada. Nenekku telah menghembuskan nafas terakhirnya di hari Jum'at. Ironisnya, aku tak kuasa untuk menengoknya. Jangankan untuk ikut menguburkan, bahkan untuk terakhir kali melihatnya saja, aku tak sempat. Jarak dan pekerjaan membuatku terasa jauh dari keluarga.

Nenekku ini sangat lucu. Aku bisa bilang demikian karena nenekku ini memancarkan aura bahagia. Tak tampak raut muka penuh akan masalah. Dan nenekku ini sangat enak untuk diajak bercanda.

Usia tua menyebabkan nenek hanya mampu mengingat sedikit nama-nama cucunya. Dari keluargaku saja, nenek hanya mengingat ketiga awalnya saja. Kedua adikku tak mampu ia ingat.

Suatu hari aku mengetesnya.

"Nek, ini siapa?" tunjukku pada adikku, Ayu.

"Dwi." jawab nenek.

"Bukan, Nek. Ini Ayu." aku coba menjelaskan.

"Ayu? Dwi ini!" sergah nenek.

Berulang kali aku menanyakannya dan jawabannya selalu sama. Dia tidak ingat nama adikku, Ayu. Dia hanya ingat namaku, kakak pertamaku, dan kakak keduaku.

Setiap kali berkunjung, nenek selalu bilang padaku hal yang sama. "Lah Hadi udah tinggi banget ini.". Aku tak kuasa untuk tersenyum. Langsung saja kupeluk dan kucium tangannya tanda hormatku padanya.

Kini nenek telah tiada. Sebelumnya setiap hari lebaran tiba, anak, mantu, dan cucu nenek berkumpul di rumahnya. Entah, apakah tahun depan kami masih bisa berkumpul lagi tanpa kehadiran nenek di tengah-tengah kami. Kami semua rindu pada nenek. Semoga nenek diberikan tempat peristirahatan terakhir yang terbaik disana.

Nenek, loving u always!


Senin, 07 Oktober 2013

Belajar Investasi (Part 1)

Saya mengenal investasi sebenarnya sudah semenjak duduk di bangku sekolah, itupun sebatas pengetahuan dasar tentang investasi yang mampu melipatgandakan uang kita di kemudian hari namun juga memiliki resiko akan hilangnya uang kita tersebut. Setelah saya kuliah, tentunya dengan bekal wawasan yang lebih luas, saya mulai mempelajarinya sedikit demi sedikit.

Memang saya bukanlah seorang Financial Planner ataupun Wealth Planner yang biasa membicarakan tentang perencanaan keuangan, tapi saya bisa menulis pengalaman dan pengetahuan saya tentang bagaimana meyakinkan kita untuk memulai berinvestasi semenjak dini.

Mindset yang biasanya ditanamkan oleh banyak keluarga Indonesia, termasuk saya adalah menabung.  Menabung dengan disiplin memang akan membuat jumlah uang kita terus bertambah. Tapi pertanyaannya adalah apakah jumlah yang bertambah tersebut akan selalu sanggup untuk membeli barang dengan harga yang sama di setiap tahunnya?

Seperti yang kita ketahui bersama, target minimal kita dalam berinvestasi adalah mampu mengalahkan inflasi tahunan. Rata-rata inflasi (kenaikan harga barang) di Indonesia adalah 7-10% per tahun.  Atas dasar itulah, mengapa kita perlu memulai investasi semenjak dini agar hasil jerih payah yang kita kumpulkan selama bertahun-tahun tidak akan  habis digerogoti oleh yang namanya inflasi tersebut. Benar adanya saldo tabungan kita bertambah di setiap tahunnya, tapi sebenarnya daya belinya justru menurun.

Kita semua sepakat jikalau daya beli uang 100rb rupiah 5 tahun yang lalu tidaklah sama dengan daya beli uang 100rb saat ini. Lalu kenapa tidak mendepositokan saja tabungan kita? Dengan asumsi bunga rata-rata 5-6% per tahun jelas deposito tidak mampu mengalahkan inflasi. Oleh karena itu, banyak FinPlan yang menyarankan kita untuk memulai berinvestasi ketika kita mendapatkan gaji pertama atau ketika kita mulai produktif.

Instrumen-instrumen investasi boleh dibilang sangat banyak. Yang populer jelas saja properti (rumah atau tanah), logam mulia (emas dan perak atau dinar dan dirham), pasar modal (saham, obligasi, dan reksadana), lukisan, wine, barang antik, dan barang-barang lainnya yang harganya cenderung naik di masa depan. Kita tidak perlu berinvestasi di semua instrumen tersebut, cukup pilih saja instrumen yang kita pahami betul, baik keuntungan maupun resikonya, dan juga sesuai dengan kemampuan materi, tujuan (jangka pendek/menengah/panjang), dan profil resiko (moderat/agresif) kita tentunya.

Perlu diingat juga untuk memastikan uang yang kita pergunakan dalam berinvestasi adalah "uang dingin" atau uang yang memang tidak kita pergunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan apabila merugi pun tidak akan membebani keuangan kita sendiri. Rasio 30% dari penghasilan bersih per bulan untuk saving atau investasi bisa dijadikan acuan meskipun sebenarnya rasio tersebut menjadi tidak relevan apabila diterapkan oleh orang yang memiliki penghasilan bulanan hingga puluhan juta namun memiliki gaya hidup sederhana. Namun, bagi saya pribadi, sebisa mungkin saya harus menyisihkan sebagian penghasilan saya per bulan untuk berinvestasi.

Salah satu analogi sederhana favorit saya dalam berinvestasi adalah seperti ketika kita menanam pohon. Pohon yang kita tanam tidak akan tumbuh besar apabila kita selalu sibuk melihatnya. Biarkan saja pohon kita ini tumbuh dengan sendirinya seperti halnya nilai investasi kita yang akan tumbuh dengan sendirinya. Tapi mungkin kesalahan ada di saya karena saya tidak menjelaskan dengan jelas bahwa dalam berinvestasi kita harus menetapkan dulu tujuan investasi kita agar hasil investasi kita maksimal. 

Berinvestasi dengan mengharapkan keuntungan besar dalam jangka pendek memang ada tapi pasti cenderung beresiko tinggi. Saya selalu mengingat akan pepatah dalam dunia investasi bahwa “High Gain High Risk” atau semakin tinggi keuntungan maka semakin tinggi resikonya. Resiko tentunya akan terus menurun apabila kita berinvestasi untuk jangka waktu yang lebih lama. 

Di tulisan berikutnya saya akan coba berbagi pengalaman memulai investasi di dinar emas. Cekidot ya..

Selamat berinvestasi dan nikmati hasilnya.......

Minggu, 15 September 2013

Girls, SAMPAI JUMPA!!! ~

14 September 2013 boleh jadi adalah hari yang sangat memorable bagi para SONE (sebutan fans SNSD) se-Indonesia. Kenapa demikian tak lain adalah karena di hari itulah diadakan konser tunggal SNSD bertajuk "Girls' Generation World Tour 2013 - Girls and Peace" yang diselenggarakan di MEIS Ancol Jakarta. Dan gw sebagai salah satu SONE (ya meskipun cuma sebatas fans youtube mereka) ikut memaksakan diri menonton. Kenapa memaksakan diri? Pertama, harga konsernya relatif mahal (antara 600rb-2,5jt). Kedua, berhubung hari sabtu gw harus masuk kerja, alhasil gw harus izin ga masuk kerja dulu setidaknya buat hari itu. Ketiga, jikalau gw jadi nonton maka gw dipastikan akan nonton sendirian karena temen-temen gw yang "ngakunya" SONE ternyata ga ada yang bisa nonton dengan berbagai alasan.

Pada akhirnya gw memutuskan untuk menonton konser mereka dan memilih kelas Festival (Pink A) seharga 1,5jt. Alasan gw pengen nonton konser mereka itu karena pertama, gw suka SEMUA lagu-lagu mereka. Kedua, gw pengen melihat dan mendengarkan perform mereka secara langsung dari dekat (especially for our ice princess, Sica, ehehe). Ketiga, gw penasaran aja seperti apa sih atmosfer konser KPOP beserta fanatisme para penontonnya.


Antrian di Main Gate Venue

Dengan mengendarai motor sendirian, gw tiba di MEIS sekitar jam 1.30 siang. Memang masih ada 3 jam lagi sebelum konser dimulai, tapi keramaian SONEs sudah terlihat jelas di sekitar venue. Perbandingan antara fanboy dan fangirl nya pun relatif berimbang. Hal tersebut sekaligus mematahkan asumsi gw pada awalnya bahwa penonton hanya akan dipenuhi oleh mostly fanboy nya saja.

Penampilan mereka pun beragam, ada yang sengaja memakai jersey klub sepakbola dengan nama punggung salah satu member lengkap dengan nomer punggungnya. Ada juga yang bergerombol dan kompak mengenakan kaos tur SNSD lengkap dengan atribut-atributnya, seperti bando, fanlight, kipas, fanboard, dll. Disamping itu ada juga yang menonton tanpa membawa atribut dan hal-hal identik selayaknya seorang fans, contohnya ya gw tentunya, ehehe :D. Meskipun outfit yang gw kenakan agak "maksa" korea (gw pake jaket seperti di MV Oh) ditambah dengan rambut yang "agak" merah, tapi tetap saja datang ke konser dengan tanpa membawa apapun terasa kurang. No lightstick, No fanboard, No T-Shirt, yeah, i'm a fan but it looks like a shit, hehe. (fanboy ga modal :D)

Dari panitia fanbase @soneid dan @soshindo terlihat mereka sibuk membagikan dua kertas yang satunya bertuliskan "Its HYOurs again" dan satu lagi ditulis menggunakan hangul yang ngga gw mengerti bacaannya dan bahkan artinya. Dalam hati gw berkata "Akhirnya ada juga yang bakal gw pegang-pegang meskipun itu pemberian gratis." Mereka juga mengajak SONE untuk mencelupkan jari kelingking ke tinta pink yang telah mereka sediakan. Ini merupakan bagian dari fanevents yang telah mereka rencanakan dengan tajuk "SNSD Pink OCEAN" dan juga merayakan hari ulang tahun Hyoyeon.

SNSD Pink OCEAN

Pihak panitia ternyata memilih untuk menggelar antrian masuk di pantai. Oh, man. What time is it? Do you want to make us feel dizzy from the beginning?  Padahal konser idol Korea lainnya yang diadakan di MEIS beberapa minggu sebelumnya, Infinite, antrian diselenggarakan di dalam venue. 

 
Antrian sepanjang pantai


Bisa dilihat dari tempat gw berdiri bagaimana crowded nya disana. Tampak di sisi kiri ada beberapa booth sponsor yang ikut mendirikan stand. Ada sekitar 1 jam gw ikut mengantri di main gate sebelum akhirnya bisa masuk gedung dan kembali mengantri namun antrian kali ini tidak terlalu lama, sekitar 20 menit dan gw pun bisa masuk ke dalam venue.

The Show is begin

Sebenarnya bisa masuk venue sudah membuat gw senang, namun spot dimana gw berdiri saat itu masih terhitung jauh dari main stage atau pun stage yang terlihat seperti ketupat yang membelah penonton di pink A dan pink B. Dalam hati gw berdoa, "Andaikan gw bisa maju 5 meter lagi aja kedepan, pasti enak deh."

Spot awal masuk venue

Namun, benar juga perkataan teman gw jikalau nonton konser di festival itu dinamis kok, jadi bisa aja tiba-tiba kita jadi kegeser-geser kedepan seperti yang gw alami saat itu. Momen-momen kesempatan untuk menyodok kedepan adalah disaat adanya sedikit chaos ketika soshi perform di stage tengah. Jadi, para penonton ini seperti saling dorong-dorongan, terutama dari arah belakang.

Chaos pertama terjadi setelah pihak panitia mengajak para penonton untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Para penonton yang sudah sangat tidak sabar terlihat sangat mudah sekali terlecut semangatnya untuk terus bergerak dan berteriak setiap kali ada cahaya lampu yang menyorot. Apalagi, kemunculan soshi saat itu pun agak mengagetkan juga karena disaat fokus penonton masih ke main stage, namun ternyata soshi muncul di stage tengah seraya menyanyikan lagu "Hoot" sebagai opening, kontan saja para penonton langsung dorong-dorongan.

Gw sih ngga ikut dorong-dorongan, tapi gw langsung memanfaatkan celah-celah yang ada ketika para penonton saling mendorong untuk sedikit demi sedikit maju kedepan. Kondisi gw juga banyak diuntungkan karena ternyata banyak penonton di area depan gw yang berguguran. Jadi, ketika mereka meminta ruang untuk mundur kebelakang, langsung aja gw manfaatkan untuk semakin menyodok kedepan. Hanya butuh waktu 15 menit dan spot gw kini cuma berjarak sekitar 3 meter dari pagar pembatas atau 5 meter dari stage tengah.

Dorong-dorongan terutama dari arah belakang memang masih terus terjadi terutama ketika soshi berlarian di stage tengah. Gw sempet berpikir, "Anjir, demi nonton konser begini aja gw harus desek-desekan, mana panas banget dan bau keringet dimana-mana.." Tapi justru pada akhirnya, dalam waktu sekitar 1 jam gw hanya terhalang oleh 3 penonton di depan dan untungnya mereka cewe yang relatif lebih pendek dari gw. Gw pikir, spot yang sekarang ini juga sudah cukup ideal karena semakin kedepan justru semakin kaku karena umumnya para penonton di depan sangat mampu menjaga spot mereka masing-masing. Namun, pada akhirnya sekitar 30 menit sebelum konser berakhir, gw bisa merangsek terus kedepan dan spot terakhir gw saat itu hanya terhalang oleh 1 orang saja didepan atau hanya berjarak sekitar 2 meter saja dari stage.

Spot terdekat gw


Soshi

Terlihat foto-foto hasil jepretan gw ini gak ada yang bener. Mengapa demikian? Ya ini dikarenakan kamera HP yang gw gunakan ini juga ternyata mengidap penyakit rabun komplikasi. Kamera HP gw ini mengidap rabun jauh jadi hasil kameranya kalau di zoom hasilnya burem. Kamera HP gw juga mengidap rabun senja jadi hasil kameranya kalau kurang cahaya jadinya ngga kelihatan. Kamera HP gw juga mengidap silindris jadi ketika diajak menangkap objek yang bergerak, hasilnya malah jadi blur. Andaikan gw punya HP bagus dengan kemampuan kamera sebagus kamera DSLR mungkin gw bisa mengabadikan Sica moment lebih banyak. Poor me... :(

Siapakah saya??

Their voice

Meskipun idol grup Korea adalah suatu kesatuan antara vocal, dance, visual, trend, style, image, etc, namun gw selalu memandang soshi adalah sebuah Vocal Group bukan Dance Group. Karena itu, gw pengen mendengarkan bagaimana ketika mereka bernyanyi secara live. Hal itu pula yang mendasari mengapa gw mengidolakan Jessica atau Taeyeon dibandingkan dengan rata-rata SONE di Indonesia yang memilih Yoona sebagai bias mereka. "Yeah, no offense for all Yoona fans, its true that Yoona is the prettiest member in this group but she doesn't even know how to sing." 

Sebenarnya, agak salah juga gw menonton di kelas festival karena kedua telinga gw hanya terisi teriakan para fans yang ikut bernyanyi atau hanya sekedar teriak-teriak memanggil nama-nama mereka. Hal tersebut yang membuat gw sulit mendengarkan dengan jelas bagaimana vibra-nya suara jessica atau bagaimana merdunya suara taeyeon.

Their dance

Gw termasuk yang kurang hapal dengan semua gerakan dance soshi di setiap MV mereka. Namun seingat gw, dance mereka yang termasuk dalam kategori powerful hanya ada di beberapa lagu seperti I Got a Boy dan In to the New World, selebihnya merupakan dance berjenis cute (Gee) atau sexy (Run Devil Run). Performa mereka juga sangat bagus, dengan jam terbang yang mereka punya gw rasa mudah saja bagi mereka untuk nge-dance 2 jam penuh. Sesekali mereka terlihat bercanda bahkan ditengah-tengah lagu.

Their appearance

Gw nggak akan membahas kecantikan wajah mereka karena "They are all so pretty. No doubt!". Yang gw bahas lebih ke hal-hal lain. Untuk kulit misalnya, gw boleh memilih bahwa Taeyeon lah yang paling putih dan terang. Gw yakin pilihan gw ini nggak akan ditentang oleh semua SONE di MEIS malam itu.

Untuk bentuk tubuh, gw memilih Yuri sebagai member soshi dengan bentuk tubuh paling sempurna. Nomer dua gw memilih Tiffany, namun karena lebih pendek, Tiffany jadi terlihat lebih gempal. Setelahnya gw memilih Jessica, Hyoyeon, dan Sunny. Sedangkan untuk member soshi lainnya gw rasa mereka terlihat kurus.

Sunny sendiri tampil dengan rambut panjang, seperti biasa Sunny emang nggak bisa diam, ada aja hal-hal lucu yang dia lakukan, pantas baginya disebut sebagai "SNSD Energy Pill".

Jessica juga terlihat lucu, dia terlihat sering bercanda dengan Yoona, Seohyun dan Tiffany. Bahkan ketika acara lempar-lempar bola, dia terlihat melempar bola tersebut dengan gaya pitcher baseball. Sepertinya dia ingin mengubah imej dia yang pernah gagal melempar bola baseball sebelumnya.

Taeyeon benar-benar cocok dengan sebutan "Dorky Kid Leader". Badannya kecil, pendek, dan suka melakukan hal-hal konyol seperti yang dia lakukan ketika melakukan gaya aneh di lagu "Way to Go".

Untuk member lainnya, gw rasa mereka sangat cantik. Yoona, Sooyoung, Tiffany look perfect. Hyoyeon, Seohyun, dan Yuri juga cantik.

Secara keseluruhan, urutan fanchant untuk para member khususnya di area radius 10 meter kuping kanan-kiri gw adalah Yoona-Taeyeon-Sooyoung-Tiffany-Jessica-Sunny. Selebihnya hanya sesekali gw dengar. Bahkan, Seohyun boleh jadi tanpa teriakan, karena kebetulan doi lebih banyak ada di sisi timur atau Pink B.

Praktis soshi menyanyikan keseluruhan 25 lagu di konser secara grup, tidak ada lagi solo performance seperti halnya konser-konser mereka terdahulu.

Konser berakhir pukul 19.00 dengan diringi lagu "Twinkle" dan "Touch the Sky" mereka melakukan salam perpisahan bagi para SONE Indonesia. Terlihat cewek-cewek sebelah gw ada yang sampai menangis. Sedangkan buat gw, "Alhamdulillah, penderitaan gw berakhir, pegel banget gila.". Ya, pinggang gw sakit, karena dipake terus-terusan buat berdiri, dosa gw (ampun) menumpuk lantaran ninggalin sholat ditambah kebanyakan lihat aurat (paha soshi, hehe). But, that's all great experience for me, SAMPAI JUMPA, soshi! Keep good spirit and stay healthy. We are SONE loving you always.

Jigemeun, so nyuh shi dae! Apperodou, so nyuh si dae! Yongwonni, so nyuh si dae!

 

Minggu, 08 September 2013

Coba-coba Deposito via Mandiri Internet Banking

Deposito atau tabungan berjangka adalah salah satu produk layanan dari Bank yang telah dikenal lama oleh masyarakat. Bedanya dengan tabungan biasa yang hanya memberikan bunga 1% setahun untuk tabungan diatas 1 juta, deposito ini memberikan nilai bunga yang lebih tinggi. Rata-rata 4-5% dalam setahun. Artinya, apabila Anda mendepositokan uang sebesar Rp 10.000.000 hari ini selama setahun, maka jangan heran apabila saldo Anda akan bertambah menjadi Rp 10.500.000 tahun depan. Namun, konsekuensinya adalah kita tidak bisa dengan mudah menarik dana deposito kita sebelum jatuh tempo atau kita akan mendapatkan penalti. Karena deposito ini merupakan produk Bank maka otomatis dana kita akan mendapat penjaminan penuh dari negara.

Salah satu cara melakukan pembukaan rekening deposito adalah melalui internet banking. Mandiri internet menyediakan fasilitas ini. Kita tidak perlu lagi harus datang dan ikut mengantri di Bank. Langkah-langkahnya pun sederhana, sama halnya melakukan transaksi lainnya tinggal masuk menu deposito, isikan jumlah dananya, masukkan password ke token dan saldo kita pun telah berkurang.

Berikut penampilan menu pembukaan deposito melalui internet banking Mandiri.


Deposito memang cocok bagi siapapun yang memiliki profil resiko tipe konservatif. Tapi bagi investor bertipe menengah atau agresif cenderung lebih tertarik dengan produk investasi lain semisal reksadana atau pasar modal langsung. Nilai inflasi tahunan negara kita yang lebih tinggi dibanding dengan bunga deposito yang didapatkan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi hal tersebut. Jumlah saldo kita memang naik namun tidak dengan daya belinya yang menurun seiring dengan kenaikan harga-harga akibat inflasi.

Rezeki Tambahan

"Rezeki tambahan" Namanya juga pedagang, mendapati pembeli yang menjual kembali barang yang sudah dibeli rasanya biasa. Dan saya ...