Jumat, 05 September 2014

Kenalan

Cerpen


Kulihat jam tanganku masih menunjukkan pukul 6 pagi. Udara kota masih terasa sejuk. Bulu kudukku terus saja bergidik. Dingin sekali. Nampaknya, matahari masih setengah sadar, seperti halnya diriku. Aku masih dalam kondisi mengawang. Pikiranku tertuju pada sesosok gadis cantik muda yang berdiri hanya sekitar 3 langkah di sisi kiriku tanpa ada seorangpun ditengahnya. Begitu dekat.

Beberapa kali kucoba mencuri-curi pandang. Kuajak kepalaku menoleh ke kiri dan kuarahkan fokus mataku tepat ke wajahnya. Tak lupa kubuat kepalaku ini selayaknya komedi putar yang bergerak acak agar dirinya tak menaruh curiga. 

Sambil tersenyum kulihat dirinya sedang melihat kearahku. Terus-menerus. Aku kaget. Aku khawatir dia akan menyadari aksi curi-curi pandangku ini. Atau mungkin dia melakukan hal yang sama seperti yang diam-diam kulakukan padanya. Apa mungkin ini sebuah pertanda bahwa dirinya menunggu respon dariku untuk memulai perkenalan.

Kucoba meyakinkan dugaanku sejenak. Kulihat sisi kananku nampak tak ada yang menarik. Hanya ada seorang Bapak separuh baya yang sedang bersiap-siap untuk menyeberang jalan. Lalu ada tiga gadis muda berseragam SMP yang sedang asik bercanda. Salah satunya terlihat menunjukkan kepada temannya isi layar HP-nya. Kurasa urusan cowok, cinta monyet, atau semacamnya. Sungguh dugaanku ini semakin menguat. Dia memperhatikanku!!

Perasaanku gak karuan. Detak jantungku terasa semakin cepat. Mungkin saja, jantungku ini sudah tak sabar ingin segera merasakan gejolak rasa cinta seorang bidadari yang baru saja dilihat oleh kedua mataku. 

Nafasku terpongah-pongah seperti orang yang baru saja berolahraga. Kuyakinkan diriku bahwa aku tidak sedang berolahraga. Aku sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Dari mata turun kehati. 

Kuarahkan pandanganku lurus ke angkasa. Lalu kupejamkan kedua mata. Kuhirup nafas sedalam-dalamnya dan kukeluarkan dengan segenap tenaga. Kuulangi terus hingga beberapa kali sampai hati ini terasa yakin, lidah ini terasa lentur, dan aura wajahku terasa hangat. 

Kucoba menoleh kearahnya sekali lagi. Kulihat dirinya sedang fokus memandangi secarik kertas sobek. Aku tak tahu apa isinya. Apa mungkin dirinya telah menuliskan nomer handphone miliknya dan kemudian menunjukkannya kepadaku. Entahlah. Yang aku yakini saat ini, diriku terpanah cinta. Lagi dan lagi. Bahkan semakin dalam hingga aku lupa tujuan awalku berdiri di sisi jalan kota ini.

Akhirnya kumantapkan diri ini untuk menyapa dirinya. Tapi aku tak tahu bagaimana harus memulainya. Kali ini kutundukkan pandangan. Lalu kupejamkan kedua mata. Persis seperti yang kulakukan sebelumnya. 

Aku butuh kepercayaan diri. Aku butuh kemantapan hati. Aku butuh kelancaran komunikasi. Aku butuh itu semua. Karena boleh jadi inilah saatnya. Inilah saat yang tepat untuk mengakhiri status lajang yang terus menghiasi tahun-tahunku selama ini.

“Uhuk..uhuk..uhuk....” tenggorokanku mendadak gatal. Entah mengapa asap bus kota terasa begitu dekat. Kucoba membuka mata. Benar saja, bus kota merah rombeng baru saja menarik pedal gas.

Persetan dengan bus kota merah rombeng. Hampir saja emosi menyelimuti diri. Segera kualihkan perhatianku pada gadis pujaanku yang tiba-tiba menghilang. Apa mungkin dirinya telah ada di dalam bus? 

Kusesali diri ini yang terlalu lama berimajinasi. Sepertinya dirinya kecewa karena aku kurang gentleman. Aku kurang pede. Aku terlalu pengecut. Hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk pergi begitu saja.

Kupukul-pukul kepala ini sebagai bentuk penyesalan diri sambil menundukkan wajah. Tanpa sadar secarik kertas yang sebelumnya kulihat dibaca oleh sang gadis ada tepat di sela-sela kedua kakiku. Segera kuambil seraya berharap nomer handphone sang gadis ada di dalamnya. Tak lupa kudekap erat kertas tersebut dan kucoba membacanya perlahan.

“Aa, punten kayaknya make kaosnya kebalik deh."

======================THE END=====================

cerpen by trickk (05 Sept 2014)
Genre : comedy

Rezeki Tambahan

"Rezeki tambahan" Namanya juga pedagang, mendapati pembeli yang menjual kembali barang yang sudah dibeli rasanya biasa. Dan saya ...